Breaking News
recent

LOVELY LOLLY - PARADE CERPEN HOROR

LOVELY LOLLY

Oleh Kartika Demia



Jika aku bertanya padamu, hal apakah yang paling kau takuti sekarang? Mungkin kau akan menjawabnya, Rio—sosok misterius yang memujamu. Seorang lelaki yang selalu menguntitmu. Dia yang memberimu kejutan ulang tahun dengan memajang foto-fotomu di sepanjang koridor kantormu. Foto saat kau berangkat kerja, menunggu angkot, hingga ketika kau makan di kantin perusahaan atau saat kau membaca di perpustakaan kota. Kau merasa selalu diikuti dan diawasi. Semua terasa sangat menakutkan ketika kau menemukan sekeping disc video di lokermu, dan saat kau memutarnya, terekam dirimu ketika berganti baju di toilet kantor—hingga rekaman kau mandi di rumahmu sendiri. Kalimat ‘I Love You, Lolly’ selalu tertulis di kartu ucapan pemujamu.

Kau pun memberikan video itu kepada Ricky—pacarmu—yang sekaligus menjadi saudara kembar Rio. Ya, mereka sepasang kembar identik. Mereka berdua adalah sepasang dokter bedah yang saat ini sedang dinas di kotamu. Tak percaya dengan tuduhanmu, kau dan Ricky menyerahkan video itu ke polisi. Lalu polisi pun tak bisa melacak jejak-jejak si perekam. Semua bersih tanpa meninggalkan bukti apa pun, dan tak menyudutkan Rio.



Saat kau menyerbu Rio dengan belasan pertanyaan dan tuduhan pun ia hanya tersenyum lebar dan berkata, “I love you, Lolly”. Kau tahu kalimat itulah yang menjadi alasan semua tuduhanmu kepadanya, karena kau tak bernama Lolly. Kau adalah Lea.

Hanya seorang psikopat pemujamu yang menamaimu Lolly, dan kau tak punya bukti apa pun untuk menjeratnya ke bui.

“Bulan depan aku dipindah tugaskan ke pulau yang sangat terpencil, kuharap kau mau
meninggalkan Ricky dan ikut denganku,” jelas Rio seraya melepaskan sarung tangannya setelah melakukan operasi bedah saat itu.

Pukulan dari kepalan tanganmu yang menjawab ajakannya. Tapi, dengan lihai ia menahannya. Kau muak dan jijik dengan sosok yang identik dengan Ricky di depanmu itu.

“Akan kujebloskan kau ke penjara!” kutukmu.

“Tidak ada bukti, dan permainan akan terus berlanjut,” ucapnya dengan seringai lebar. “dan ... jika kau tetap tak ingin ikut denganku, sayang sekali adikmu akan menjadi taruhannya.”

BUUUGH!!!

Kali ini kepalan terakhirmu menghantam wajahnya dengan sangat keras, sampai ia
kehilangan keseimbangan untuk sesaat. Kali ini ia memang tida menahan pukulanmu, sebab ia sengaja mau merasakan kemarahanmu itu. “Jangan sentuh adikku!” serumu, lalu pergi dari ruangannya.

Kini yang ada di pikiranmu sekarang hanya adikmu perempuanmu. Kau tak ingin Nea yang cantik itu ikut terjerumus dalam masalahmu. Kau ingat saat pertama kali memergoki Rio mengintipmu dari balik jendela kamarmu, ketika malam hari kau lihat ia mengorek-ngorek isi sampah di depan pagar rumahmu—seperti mencari sesuatu apa pun yang pernah kau pakai. Menjilati botol minuman kosong yang ia yakini dari bekasmu. Sampai perbuatan klise mencuri pakaian dalammu yang kau jemur di halaman belakang. Dan Ricky pun tak pernah percaya atas semua tuduhanmu terhadap abangnya.

Dan kali ini Rio sudah bersiap melewati batas aman zona keluargamu.

Sekarang kau melihat Nea sedang bermain-main di taman. Tak ada siapa pun kecuali kalian berdua saat ini sejak kedua orang tuamu meninggal. Gadis cilik yang
berumur 14 tahun itu masih duduk di kelas 2 SD. Kenapa? Karena ia mengidap keterbelakangan mental. Mulai detik ini pun kau melarang ia bermain di halaman. Kau menyewa pengasuh anak yang akan menemaninya saat di rumah selepas pulang sekolah. Peraturan pengawasan yang ketat kau bacakan keras-keras di depan wanita pengasuh itu. Nea pun akan aman sekarang, pikirmu.

Hari-hari tetap berjalan seperti sebelumnya, kau merasa diawasi. Saat berjalan di gang-gang komplek tempat tinggalmu pun kau merasa ada sepasang mata yang mengawasimu dari balik kegelapan malam. Tentu saja, lembur di kantor mengharuskanmu pulang malam minggu-minggu ini. Langkah kakimu bergerak cepat
meninggalkan bayangan-bayangan Rio, takut si maniak itu akan menerkammu dari arah mana
saja yang tak bisa terbayangkan olehmu.

Perasaan lega pun menyeruak ketika kau melihat pagar rumahmu. Saat ini Nea belum tidur, ia terlihat bermain di ruang tengah. Kau memanggil pengasuh adikmu.

“Dia sedang tidur,” sahut Nea.

Matamu pun dapat menangkap boneka beruang besar berwarna pink di pelukan Nea. Seingatmu kau tak pernah membelikan boneka sebesar itu.

“Aku dapat ini dari Om Badut,” ucapnya dengan mata berbinar.

“Badut? Seseorang datang kemari?” Lalu kau pun memanggil pengasuh adikmu.

Bukankah sudah kausebutkan adanya peraturan yang salah satunya dilarang membukakan pintu untuk orang asing di rumah ini? Jantungmu berdegup kencang membayangkan jika hari ini Rio berkostum badut menemui adikmu.

“Kau tak apa-apa ‘kan, sayang?!” tanyamu sembari mengecek semua keadaan tubuh adikmu. Perasaan lega menyeruak saat kau tak mendapati bekas luka apa pun di tubuh mungilnya.

Dengan marah kau mencari wanita pengasuh itu ke penjuru rumah. Hingga kau menemukannya ia tertidur di kamarmu. Baru saja kau akan membuka mulutmu dengan sangat marah, kaudapati ia telah bersimbah darah. Perutnya terkoyak, ususnya menjuntai ke lantai dari atas ranjang. Kau hampir menjerit dan seketika menutup mulutmu. Tampak sekeping disc video tak jauh dari mayatnya. Dengan gemetar kau mengambil video itu, ‘To My Lovely Lolly’ tertulis di bagian penutupnya yang transfaran. Bulir-bulir keringat dingin mulai menuruni pelipismu. Saat kau menunggu polisi datang ke rumahmu, kau sempatkan melihat video terkutuk itu dalam laptopmu.

Jantungmu seolah akan kabur dari sarangnya membayangkan isi dari film tersebut. Matamu seakan lebih buram ketika kau mendapati adikmu menjadi ‘lakon’ di video itu. Terlihat dalam video itu, adikmu yang telanjang menari erotis dan diinstruksi oleh si badut. Kau mengenal figurnya, sosok itu adalah Rio, walau topeng badut menutupi wajah lelaki itu. Kau melempar laptopmu dengan kengerian yang luar biasa. Kau merengkuh adikmu ke pelukanmu, lalu menangis.

***

Dari balik kaca ruangan interogasi, pria itu terlihat duduk dengan tenang. Tampak dua orang polisi menyerbunya dengan belasan pertanyaan. Sekilas pria itu menatapmu dari balik kaca seolah tahu kau sedang mengamatinya. Kau pun muak dan meninggalkannya pergi. Yang lebih mencemaskanmu kali ini adalah hasil visum Nea dari dokter. Kau takut Rio melakukan tindak asusila terhadap adikmu.

Tak lama setelah itu seorang polisi keluar dari ruangan interogasi. “Tak ada bukti apa pun yang membuatnya menjadi tersangka atas kasus ini” kepala polisi
itu berbicara kepadamu.

“Tidak! Ini tidak mungkin! Dialah pelakunya, Pak!” yakinmu.

Kemudian Rio keluar dari ruangan interogasi dan tersenyum tipis ke arahmu.

“Bedebah, kau!!!” kau memakinya, lalu meludahi wajahnya.

Dan akhirnya polisi pun membebaskannya yang tentu saja membuatmu kecewa dan marah. Hasil visum tak menemukan bekas-bekas penganiayaan maupun pelecehan terhadap adikmu. Tapi kau yakin ini suatu ancaman dari Rio, yang suatu saat bisa saja ia berbuat sesuatu yang lebih gila terhadap Nea.

Kau menelpon Rick. Kemudian kau bertengkar dengannya. Ia tak percaya dengan semua tuduhanmu terhadap kakak kembarnya itu. Hingga saat kau menyebut kata ‘psikopat’ dan ‘pedofil’ terhadap Rio, membuat Ricky tersinggung dan marah besar. Kalian pun putus. Kisah kasih kalian pun berakhir tragis melalui telepon seluler di bulan Desember ini.

***

Aku adalah boneka dan aku harus patuh pada majikanku.

Aku adalah boneka dan aku harus patuh pada majikanku.

Kepalamu terasa pening saat kau bangun tidur. Kau mengamati sekeliling ruangan yang begitu asing. Kau tak bisa berpikir. Ruangan berukuran enam kali enam meter tanpa ventilasi. Bercat putih tanpa hiasan dinding apa pun. Kau melirik jam digital di meja samping ranjangmu.

Pukul 09.15. Tapi kau tak bisa membacanya. Sebuah kalender duduk terlihat menunjukkan angka 20 yang tertulis besar tanpa angka-angka lainnya, itu adalah kalender harian yang disobek setiap harinya. Tertulis bulan April di sana. Tapi otakmu tak bisa mencerna semua itu.

Aku adalah boneka dan aku harus patuh pada majikanku.

Kalimat itu terus terngiang di otakmu. Kau tak bisa berpikir lainnya. Seolah mensugesti dirimu. Beberapa saraf otakmu telah diputus dan kau pun idiot. Tapi cukup cerdas dengan mencerna kalimat ini: Aku adalah boneka dan aku harus patuh pada majikanku.

Kau sulit bergerak. Lalu tersadar kau bugil di ranjang tanpa bisa berpikir. Ragamu menggeliat hebat dan kau menatap tubuhmu yang ternyata tanpa tangan dan kaki. Tapi sekali lagi, kau tak bisa berpikir apa pun. Kau idiot.

Seorang pria memasuki kamar. Ialah Rio. Ia memandangmu penuh kagum—hasil karyanya.

Ya, sekarang Rio adalah majikanmu. Ia yang memutilasi tangan dan kakimu, menggunting pita suaramu, dan memutus saraf otakmu hingga kau menjadi idiot sekarang. Kau tak ingat malam itu Rio menculikmu, lalu membedahmu dan membawamu ke sini. Ke pulau terpencil.

Diisapnya puntung rokoknya yang terakhir, lalu ia menggunakan pusarmu sebagai asbak.

Kau melotot menahan sakit. Mulutmu terbuka lebar dan mengerang tanpa ada suara yang keluar. Tentu saja, kau bisu sekarang. Kau idiot!

“Aku senang bisa membawa pengantinku ke sini” ucapnya, lalu terkekeh. “Buka mulutmu Lolly. Ayo bercinta denganku”

Aku adalah boneka dan aku harus patuh pada majikanku.

***
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

3 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.