Breaking News
recent

PROFIL PENULIS - ARTIE AHMAD

Pernah Dipanggil Mas, Hingga Naskah Ditolak


PROFIL PENULIS

Hai Parhan, ketemu lagi di rubrik asik buat ngepoin para penulis-penulis kece di Majalah Penchake. Penasaran gak sih kita bakal ketemu siapa minggu ini? Sosok cantik tapi bukan makhluk astral yang berasal dari kota Salatiga yang kali ini bakal kita kepoin minggu ini, udah pada kenalan belum sih?  Kalau belum kenalan yuk, kalau udah kenalan lagi biar makin sayang, kan gak kenal maka gak sayang? He ... he ...

            PERNAH DI PANGGIL “MAS”

Artie Ahmad, dara cantik kelahiran Salatiga 21 November 1994 pernah di panggil mas oleh beberapa orang karena namanya. Sekalipun begitu dia  mengaku gak pernah kesel, paling cuman menjelaskan dengan kata-kata penuh penekanan “Aku ini Mbak lho,” ujarnya penuh senyum. Sepertinya yang panggil dia mas mesti lihat profilnya dulu deh, kalau perlu di zoom segede mungkin, masa cantik-cantik gini dibilang mas? He ... he ... Menulis adalah kegiatannya di sela-sela pekerjaannya sebagai karyawati di sebuah pabrik di Salatiga, gadis yang supel dan penggemar Nh. Dini ini mengawali menulis sejak tahun 2013 secara otodidak. Cerpen-cerpennya pernah tergabung dalam Antologi cerpen untuk memperingati hari Disabilitas dalam kumcer Jika Aku Mereka (Penerbit Gagasmedia, 2014), Kumcer Cinta Hari Gini (Penerbit Gradien, 2014), Mediatama 990 (Penerbit Divapress, 2014), Don Juan Katrok (Penerbit Diva Press, 2014). Selain itu dia juga penulis dari dua Novel Cinta Cowok DL-ers (Penerbit Mazola Divapress, 2014) dan Turning Seventeen (Penerbit Elexmedia Komputindo, 2015).



DITOLAK ITU PROSES

            Yang namanya ditolak itu memang nyesek kan? Ditolak gebetan yang belum ditembak aja nyeseknya minta ampun apalagi di tolak media, he ... he ... Ketika dilontari pertanyaan pernah di tolak gak sih? Artie menjawab penuh senyum, “Media, surat kabar, tabloid sering banget. Bahkan entah sudah berapa kali ditolak, aku sendiri sampai lupa. Tapi tidak apa-apa aku masih nulis cerpen sampai sekarang. Dimuat atau enggak itu rezeki, sedangkan kalau udah berani kirim itu kemenangan tersendiri. Sedangkan kalau ditolak penerbit tentu juga sudah bukan masalah besar sih. Semua itu sebagian dari proses menurutku,” tuturnya panjang di sela sesi wawancara dengan kru Majalah Panchake. Bener banget itu, kenapa aku jadi tersentil yah tentang kemenangan tersendiri, ah ... abaikan. Asal terus berusaha dan belajar, pasti suatu saat nanti karya kita akan menemui jodohnya, iya enggak, Parhan?



 GAK SUKA NGIKUTIN TREN, PENGEN NYOBA HOROR

            Artie bukanlah seseorang yang suka mengikuti tren menulis novel dengan genre yang lagi booming. Ketika ditanya pengen nyoba gak nulis horor, Artie bilang pengen  meskipun entah kapan, dia mengaku agak sedikit penakut orangnya. Ayo dong kak Artie, nulis kisah horor, sama aku aja gak takut masa nulis horor takut? Nah lho. He ... he... Kedua novelnya pun bukan bergenre horor, lebih ke teenlit dan  terbilang cukup berbeda sangat berbeda keduanya, “Dari gaya bahasa atau POV keduanya berbeda. Tapi tetap mengusung tema yang sama tentang persahabatan, cinta remaja dan keluarga,” tuturnya. Pengen tahu perbedaannya apa? Dapatkan Novel Turning Seventeen dan Cinta Cwok DL-ers di toko buku kesayangan kamu *promo dikit gak papa kan? Kedip-kedip.

 Penggemar Nh. Dini, Mira W, dan Ahmad Tohari ini mempunyai banyak koleksi novel-novel ketiganya di rumahnya. Mulai dari Ronggeng Dukuh Paruk, Berkisar Merah, Seri Cerita Kenangan Nh. Dini, juga novel karya Hilman yang berjudul Lupus, Olga dan Sepatu Roda dan untuk novel terjemahan dia menyukai novel-novel karya Enid Blyton. Dia ini punya kebiasaan nyiapin outline agar tulisannya konsisten dan gak lupa idenya walau ditinggal kerja, selain itu dia juga suka menyiapkan air minum sebelum mulai menulis, biar gak dehidrasi kali ya, Parhan? Xixixi.

            PESAN UNTUK PARHAN

            “Tetap semangat aja, selalu belajar hal-hal baru yang positif, dan berani menginjak level yang lebih tinggi, misalnya dalam ikut lomba nulis.”

            3 KATA UNTUK MAJALAH PANCHAKE DAN PANCHAKE

            Ketika ditanya 3 kata untuk Panchake dia langsung menjawab, “ Seru penuh semangat,” dan untuk majalah Panchake, “Semoga bisa menjadi majalah yang menjadi ajang untuk para penulis muda,” ungkapnya di sesi akhir wawancara.

            Gak kerasa udah banyak banget yah ngepoin Kak Artie, waktunya pamitan di rubrik kali ini, semoga semangat kak Artie bisa menular ke Parhan jadi semangat nulis dan gak putus asa. Keep writing Parhan dan terus Move On, jangan takut untuk memulai sebuah karya. Sampai jumpa lagi minggu depan. Pai ... pai ... Parhan J


 ARTIE AHMAD’S PROFILE

Nama lengkap: Artie Ahmad
Tempat tanggal lahir: Salatiga,  21 November 1994
Facebook: Artie Ahmad
Twitter: @artieahmad
Instagram: @artieahmad21
Akun Kompasiana: Artie Ahmad
Blog: artieahmaddp. Blogspot.com
.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

1 komentar:

  1. magnificent points altogether, you simply gained a logo new reader. What could you suggest about your publish that you made a few days ago? Any certain? facebook login

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.