Breaking News
recent

MAMMA - PARADE CERPEN BEBAS

MAMMA

Written by Ana Sue

Mamma
You gave life to me
Turned a baby into a lady

Mamma
All you had to offer
Was the promise of a lifetime of love

Now I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child


Aku masih ingat, sangat ingat saat dia memelukku dalam tidurku. Kalimat yang kudengar meski kedua mataku terpejam, “Sayang, Mama sayang kamu, sayang banget. Satu hal yang Mama minta sama Tuhan, semoga kamu jadi anak yang pintar, penurut, dan tidak akan pernah melupakan Mama. Si Cantik, Mama tidak punya apa-apa untuk diberikan, selain …, tenaga dan nyawa untuk membesarkan kamu.”

            Entah bagaimana aku harus mengungkapkan apa yang aku rasakan. Memang benar, tak ada yang lebih besar dari kasihnya.

            Aku dibesarkan kedua orangtua angkatku, yang notabene masih keluarga. Aku memanggil mereka Mama dan Papa. Bukan, bukan karena Mama membuangku seperti yang ada di cerita-cerita yang pernah kalian baca, itu salah …, dia membiarkanku dibesarkan oleh sepupunya, karena dia tak ingin aku menderita, menjadi bahan ejekan, karena aku … tidak memiliki seorang Papa. Aku paham betul, sangat paham, bagaimana terlukanya, saat seseorang bertanya, “Papamu mana?” itulah yang mereka sering tanyakan, dan aku hanya bisa menjawab, “Aku tak punya Papa.”

            Kumohon, jangan salahkan Mama. Mama bukan seorang perempuan murahan yang dekat dengan lelaki mana pun hingga menyebabkan dia memiliki aku tanpa seorang pria yang bertanggungjawab. Ini semua adalah masa lalu yang mungkin tak seorang pun akan paham atau menerima keadaan ini, jika Mama menceritakannya. Orang pasti akan memandang hina dan mencemooh. Saat mereka bertanya di mana Papa, mereka mengejekku dengan ketidakberdayaanku. Aku berlari pulang ke rumah, meski hatiku terasa sakit, aku sudah paham, sangat paham, meski tak ada seorang pun yang menjelaskan arti ‘anak haram’. Tuhan … kata Mama, aku bukan ‘anak haram’ karena masih memiliki dirinya. Saat Mama melihat kedua mataku memerah dan tubuhku yang bergetar karena terisak, dia akan memelukku, membenamkan kepalaku di dadanya seraya mengusap lembut kedua kepalaku. Aku ingat apa yang dikatakannya. “Kau mungkin tak memiliki Papa, tapi dengan kehadiranku, kau memiliki keduanya. Bukankah selama ini aku yang selalu memasang tubuhku untuk menjaga dirimu, menyerap rasa sakit yang kaurasakan? Kau tak butuh Papa, karena aku adalah keduanya.”

            Ya, dia adalah segalanya.

            Mama, kau ingat? Saat aku merasakan lapar, dan kau hanya memiliki beberapa sen di dalam dompet, kau membuat sebuah keajaiban, kau bisa membuatku kenyang. Aku masih ingat, jelas sekali terekam dalam memoriku. Kau mengambil sebuah kantung berisi tepung—berada di dalam lemari makanan—yang hanya tersisa seperempat. Aku tahu, Ma, saat itu kau pun merasakan perih yang sama dengan yang kurasakan di dalam perutku. Kau tersenyum, mengangkat kantung berisi tepung, dan berkata, “Katakan apa yang kau ingin untuk kubuatkan? Seperempat tepung akan kujadikan sebuah makanan terenak yang mungkin belum pernah kau makan.” Senyuman itu begitu tulus dan iklas, yang tak mungkin akan kutemui di mana pun.

            Aku menggeleng, jujur, dadaku terasa sakit, kerongkonganku tercekat, kedua mataku memerah, hanya saja aku tak mampu menangis, aku tak ingin membuat Mama cemas.

            “Apa Mama akan membuat pizza?” tanyaku.

            “Lebih dari sebuah pizza. Aku membuatnya dengan seluruh perasaanku, Sayang. “

            Apa Mama membuat pizza? Tidak, dia hanya membuat sebuah gorengan sederhana, lima buah gorengan. Dia memberikannya semua kepadaku, saat aku menawarinya untuk makan bersama denganku, dia hanya menggeleng dan mengatakan jika dia sudah kenyang. Aku tahu Mama berbohong, aku tak melihatnya menyentuh makanan dari kemarin sore, atau mungkin lebih. Tepung yang tersisa adalah tepung yang dibelinya dari uang utuh yang kini hanya tersisa beberapa sen di dalam dompet, dan dia melakukannya untukku. Aku bisa merasakan jika Mama lapar, karena dia selalu tertidur, ketika aku bertanya mengapa beberapa hari ini dia tertidur berjam-jam, dia hanya menjawab jika dia lelah. Tidak, Ma, aku tahu Mama menahan lapar. Kenapa harus berbohong demi aku?

            “Mama, tidak akan pernah meninggalkan aku, kan?”

            “Tidak akan. Tetapi jika suatu aku harus meninggalkanmu, apa kau bisa berjanji satu hal?”

            “Apa, Ma?”

            “Buat aku selalu tersenyum dalam ketiadaanku nanti, agar aku yakin aku telah tepat mengasuhmu. Buat aku bangga dengan kebaikan dari dalam dirimu, hingga aku yakin, aku telah merawat apa yang diberikan Tuhan padaku, kau bisa?”



            Entah kenapa saat aku mendengar kalimat itu, membuatku merasa akan kehilangan dirinya selamanya. Apa yang kau sembunyikan, Ma?

            Hari itu adalah hari terakhir aku bersamamu untuk waktu yang panjang, aku tak bisa lagi tidur dalam dekapanmu, tak bisa lagi merasakan kecupan di keningku saat aku tertidur, merasakan usapanmu di punggungku, dan terlelap dalam mimpi bersama Mama. Kau memilih sendiri dalam sepimu, berharap aku bahagia bersama keluarga yang baru. Aku mengerti alasannya, tapi … aku merindukanmu, Ma. Aku sangat merindukanmu, seluruh buku tulis milkku penuh dengan coretan namamu dan namaku, hanya itu yang kumiliki untuk mengingatmu. Meski aku tahu, aku masih bisa bertemu denganmu, tapi tak seperti dulu, Ma, di mana aku bisa melihatmu terlelap setiap saat di sisiku, menyampirkan selimut ke tubuhmu, dan kau tak pernah tahu aku terbangun saat kau memejamkan kedua matamu, hanya untuk berbagi selimut kecil yang menutupi tubuhku.

            Ma …, apa kautahu, betapa sakit yang kurasakan ketika aku kini melihatmu terdiam, membisu, tanpa mampu menyentuhku di sana? Kautahu, aku tak pernah ingin ditinggalkan olehmu? Ma, apa kau masih merasakan kepedihan di sana? Kenapa kau menyembunyikan sakitmu? Ma, lihat aku …, aku sudah berhasil menjadi apa yang kauimpikan, setiap receh yang kau kumpulkan telah membuatku menjadi seseorang yang berarti di mata orang lain.

            Ma …, kenapa tak memberiku kesempatan, sedikit saja untuk membuatmu bahagia seperti kau berusaha membahagiakanku dalam sulitmu, membuatku tertawa dalam pedihmu, dan menyerap rasa sakitku menjadi milikmu.

            Ma …, mereka tidak tahu apa yang kau korbankan, tapi aku dan Tuhan, kami tahu segalanya.

            Ma …, tanah itu masih basah dan suatu hari akan mengering, tapi tidak dengan air mata yang selalu kutahan, hari ini mengalir dan entah kapan akan berhenti. Hatiku menangis dalam duka.

            “Jika Tuhan memintaku kembali, biarkan aku memastikan, jika dirimu menjadi seperti yang kuharapkan, agar Tuhan tidak pernah kecewa padaku.”
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.