Breaking News
recent

Prolog Epilog untuk Penguasa - PARADE PUISI

Random: Prolog Epilog untuk Penguasa
By: Kiciwis (Oetep Sutiana)

Boleh aku pinjam lubang telingamu, Bapak?
(sebentar saja) agar Bapak bisa lebih mendengar suara-suara sumbang Kami.

Oh ya! Aku harap Bapak belum benar-benar tuli. Sebab, banyak teriakan diabaikan, banyak jeritan dibisukan, bahkan banyak tangisan ketidakadilan dianggap angin lalu.
Baiklah. Tak Mengapa. Kami sudah terbiasa.

Ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkan, Pak?
(katanya: dari katanya) negeri ini sudah mati. Apa benar?

Tadinya aku ingin meminjam bola matamu sekalian (tentu saja) agar Bapak tahu, banyak tontonan menarik di negeri ini:

Lihat, Pak!
badut-badut politik main dagelan
para bedebah bermain drama
para pencoleng sutradaranya.

Mereka gembira, Bapak.
sedang Kami hanya puas jadi penonton. Mau tertawa (sepertinya) sulit.

Bagaimana bisa tertawa, bicara saja susah. Perut keroncongan: busung lapar.

Saat di televisi, Bapak bisanya hanya bercanda (saja). Garing, sih!
Tapi bukankah negeri ini butuh candaan?
biarkan Kami tertawa meski settingan
biarkan Kami bertepuk tangan meski tak menarik.
'Sing penting Bapak senang ae.' Betul?



Boleh pinjam lubang telingamu, Pak? sekalian bola matamu.
biar Bapak bisa mendengar dan melihat siapa Kami? Yang tercekik dan nyaris mati.

jangan tanya birokrasi
sebelum kami kenyang makan nasi
jangan tanya demokrasi
bila janji sekadar basa-basi
jangan tanya koalisi
bila kami dieksekusi hanya karena lantang berorasi

Subsidi
konvensasi
mungkin itu (hanya) sebuah trik sensasi

Penguasa...
penguasa...
muka kalian topeng besi
Nggak malu sama dasi?
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.