Breaking News
recent

SANG PENGIKUT - FLASH FICTION

SANG PENGIKUT

Oleh Arikmah Kamal


Embusan angin malam mulai merebak dan menusuk hingga ke tulang. Kueratkan jaket sport merahku. Langkahku semakin kupercepat menyusuri koridor rumah sakit yang nampak senyap. Malam pekat menyelimuti membuat penglihatanku semakin kabur seperti banyak asap di sekelilingku.

Tak terlihat seorang pun yang melintas. Rumah sakit ini seperti gedung tua yang kosong tanpa penghuni. Andaikan bukan karena Reno yang baru saja harus dirawat inap di sini, tidak sudi aku malam-malam datang membesuknya. Seperti tidak ada hari lain saja.

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Seakan ada seseorang yang meniupnya. Kesunyian membuat pendengaranku semakin peka. Desiran angin terdengar seperti langkah-langkah seseorang. Aku merasa ada yang mengikutiku. Spontan aku menoleh ke belakang. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Keningku mengkerut. Tanpa pikir panjang aku mulai beranjak dari tempatku berdiri. Setengah berlari aku menuju kamar Kenanga 10, ruangan tempat Reno dirawat.



Sepintas bayangan berkelebat melewatiku. Aku terkesiap. Untung jantungku tak ikutan berhenti. Bayangan itu berdiri tepat di depanku. Karena kaget aku mundur beberapa langkah. Bayangan itu menakutkan. Seluruh bajunya nampak kumal. Rambutnya yang panjang terlihat kusut. Wajah pucatnya tergurat kecantikan yang tersisa. Pandangannya tersorot menakutkan. Lingkaran hitam di sekeliling matanya menambah keangkeran wajahnya.

"Siapa kamu?" tanyaku hampir tercekat. Menelan ludah pun tak sanggup. Seakan tenggorokanku kering kerontang.

Bayangan itu terkekeh menakutkan. Tawanya sanggup membuat lutut lemas karena ketakutanku.

"Aku adalah sang pengikut Ayahmu. Kami terikat perjanjian. Dan, aku tak bisa pergi meskipun Ayahmu meninggal. Karena aku harus mengikutimu,” akhirnya bayangan itu berbicara padaku.

"Aku enggak mau diikuti kamu. Pergilah!"

"Tidak bisa, Farel. Perjanjian tinggal perjanjian. Tugasku adalah menjadi pengikutmu. Karena kamu adalah pewaris tunggal Ki Pasembahan Segoro. Jadi aku harus menjadi pengikutmu," terangnya dengan tenang, tapi sangat menakutkan.

Aku menggeleng cepat. Berharap sosok itu mengerti kalau aku tak ingin dia menjadi pengikutku.

"Aku bisa pergi dan berhenti menjadi sang pengikut, jika pewaris tunggal Ki Pasembahan mati," kata sosok wanita itu seakan membaca pikiranku. "Kalau kamu menolakku. Maka kamu harus mati, Farel. Karena aku tak ingin menjadi arwah penasaran," sambungnya membuatku semakin ketakutan.

Aku ingin berlari. Tapi kakiku seperti tertanam erat di lantai. Aku ingin melangkah dengan cepat, tapi entah kenapa sulit sekali menggerakkan tubuhku. Sedangkan sosok itu semakin bergerak mendekat. Kukunya yang panjang dan runcing mengarah ke leherku. Aku ingin berteriak meminta tolong, tapi aku tak kuasa untuk melakukan itu. Jarinya mulai mencekik leherku dengan kuat dan aku hanya bisa merontah. Kekuatanku semakin melemah dan pandanganku mulai menggelap.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.