Breaking News
recent

EDISI 2, PESAN DALAM BOTOL - PARADE CERPEN BEBAS




Pesan dalam Botol
Oleh: Oetep Sutiana

Pesan itu akan sampai!
Ombak berdebam memecah karang, buihnya yang putih mencumbui pasir yang sama putihnya. Aku memejamkan mata, menghidu udara yang ini kali begitu terasa sangat menyegarkan. Kakiku yang telanjang, bergerak bebas menyusuri bulir-bulir pasir yang sesekali menyentuh kasar kulit.
*
Aku telah mengirimkannya. Semoga ombak berbaik hati mengantarkannya menepi, ke ujung lautan sana, ke tempat di mana--dengan keyakinanku, kamu sedang menatap lurus samudera, berharap aku hadir di hadapanmu, menanti dengan yakin kehadiranku.
            "Kamu tak harus melakukan itu, Ann. Kamu tahu, mungkin di seberang sana, Alf, sama sekali telah lupa akan dirimu." Kata-kata itu keluar deras dari bibir sahabatku, Andin. Aku berharap kata-katanya tidak serius. Ini olokkan–nyatanya tidak, ia tidak sedang bercanda. Aku tidak setuju dengan semua yang dituturkannya. Sama sekali, tidak.
            "Bukan sifat Alf berlaku seperti itu, bila hal itu terjadi, mungkin aku akan menjadi orang pertama yang merasakan kekecewaan," belaku. Bayangan wajah Alfin melintas di atas permukaan lautan, tersenyum memamerkan deretan geligi putihnya. Masih dalam bingkai yang sama, sosok yang sama, tatkala pertemuan terakhir.
            "Kamu tak seharusnya meyakini itu, Ann," Andin mencoba mematahkan keyakinanku.
            "Kenapa begitu?"
            "Bukankah ini tahun kedua tanpa kabar darinya? Sepotong pesan sekalipun, dan, Ann, apa kamu yakin bahwa ia masih mengingatmu? Maksudku ... menganggap ada keberadaanmu?"
            Aku tak menjawab, pertanyaan itu terlalu menohok. Aku memalingkan wajah, menganggap apa yang dikatakan Andin tidaklah semestinya. Harusnya apa yang dikatakan oleh Andin itu benar, namun aku mencoba menyangkalnya.
            "Kamu salah, Din." Aku berdiri menantang laju angin di atas palka. Biru sepanjang mata memandang, seolah tak pernah usai. Pekik camar sesekali melintas, awan putih berarak seirama dengan riak permukaan air laut. "Itu tak seperti dugaanmu, Din," lanjutku.
"Percaya aku, Ann."
            "Harusnya," kupotong langsung kalimatnya, sebelum kosakata lainnya meluncur deras, "tapi aku tak bisa."
            Andin melipat wajahnya, ia mencelos, seekor lumba-lumba naik ke permukaan, tubuh hitam putihnya mengilat ditempa sinar mentari. Hampir senja, sebentar lagi matahari tumbang menuju peraduan lelap.
            Tiga hari aku terapung di atas lautan lepas, sengaja membiarkan tubuh ini berjibaku dengan kekejaman suasana lautan: mabuk laut, masuk angin, dan tentu saja kegelisahan yang kubawa dari rumah. Satu tujuanku, menemuinya. Alfin-ku, kekasih hati yang lama tidak terdengar kabar beritanya.
**
Aku membuka mata, kesiur angin menerpa wajahku. Laut sedang pasang, daun-daun pohon nyiur melambai-lambai. Aku terus melangkah membelah udara pesisir yang kering, menerbangkan bulir-bulir garam halus. Ombak di depan sana, tanpa sedikit pun lelah terus menyisir pantai, mengempaskan tenaganya menerjang karang.
***
Ini tahun kedua. Tentu saja aku mengingatnya. Ihwal pertemuan, senyum manis, tubuh tegap, juga sapa hangatnya.
            "Nama yang indah," pujimu kala itu.
            Desir hangat mengangkat jiwaku. Aku seolah terbang ke angkasa raya. Rona wajahku memerah. Aku menunduk, padahal aku tahu, ia masih melabuhkan pandangannya ke arahku.
            "Aku Alfin," ujarmu memperkenalkan diri. Hangat menjalar ke arah-arah tak terduga tubuhku, sesaat genggaman tanganmu tertangkup.
            Pria yang hangat, sehangat mentari pagi yang mengintip malu-malu dari balik awan di atas sana.
            "Mungkin laut akan berbaik hati, mengantarkan pesanku untuk dirinya di seberang sana." Aku memilin kertas putih itu menjadikannya gulungan kecil, lantas memasukannya ke dalam botol. Angin memainkan rambutku, melambai, bergerak bebas di antara deru mesin kapal. Aku berdiri di atas geladak, menatap bayanganku sendiri pada permukaan laut yang jernih. "Semoga kamu menerima pesanku segera," gumamku disamarkan riuh gelombang.
            "Sudah kubilang, kamu itu sudah gila," Andin memandangku tak percaya. Kedatanganku di tempatnya ternyata sia-sia. Alf sama sekali tak ada, tak pernah ada. Hanya rumah tua yang rapuh, teronggok tak berdaya. Terasingkan dari dunia di sekitarnya.
            "Tidak, Din. Percaya aku. Di sinilah aku dipertemukan." Lagi-lagi aku membela diri.
            "Rumah ini kosong, Ann. Bahkan, sepertinya sudah lama sekali," teriak Andin kesal.
            Ada kecewa yang kutinggalkan, tapi asaku tak serta merta kutanggalkan. Aku menatap kembali bayanganku sendiri. Wajah tirus itu terlihat lelah, bara asa hampir redup dari bola matanya yang cokelat. Itu, refleksi wajahku sendiri.
            Aku memegang erat botol itu, menatapnya lekat-lekat. "Semoga kamu menemukannya dengan segera. Membacanya, dan yakinkan aku bahwa kamu masih ada untukku."
            Botol itu meluncur deras ke bawah sana. Mengambang di udara lantas menghunjam permukaan air laut. Pyaaaar!!! Setelahnya mengambang seorang diri di tengah lautan luas, seperti jiwaku.
****
Aku merebahkan tubuhku di atas karang, air laut terpercik ke atas tubuhku. Aku menikmatinya. Aroma laut selalu membuatku rindu untuk kembali. Ke sini, ke tempat di mana masa kecilku kuhabiskan.
            Aku menatapnya. Ya, aku menatapnya. Botol itu sungguh menarik perhatianku, terselip di antara rongga karang-karang terjal. Aku mendekat untuk memastikan, 'message in a bottle'. Aku tidak sedang bermimpi atau menjadi lakon cerita drama, aku melihatnya. Botol itu berwarna bening polos dengan gulungan kertas putih di dalamnya. Pesan dalam botol, benarkah?
            "Di manapun kamu, Alfin, yakinkan aku bahwa kamu, baik-baik saja. Aku menunggumu dan ... I just wanna say: I love you, i miss you so much."
            Aku terenyak, kata-kata itu terjalin begitu indah, tulisan itu seolah ditujukan untukku. Aku tahu, ada banyak nama Ann dan Alfin di dunia ini, namun perasaanku berkata lain, dan tanpa sadar dadaku bergolak pedih, air mata tumbuh tanpa terduga.
            “... yang selalu merindukan kehadiranmu: Annabel.”
            Aku berdiri kukuh menantang embusan angin. Jingga baru saja merangkai sayap bentangnya. Matahari mulai undur diri. Aku membuka mulutku lebar-lebar, bibirku bergetar hebat. "Aku juga merindukanmu, Ann!" teriakku membelah deru suara ombak.
            Cinta itu menyatukan, bukan memisahkan. Jarak hanya perkara menghitung bilangan angka. Ann mendesah, ia seolah mendengar suara Alfin di lubang pendengarnya.
BCI, 14092015
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.