Breaking News
recent

EDISI 2, SAMPAI AKHIR - PARADE HOROR (FLASH FICTION)



SAMPAI AKHIR
Oleh Adelia Putri Septiani

“Berhenti! Jangan mendekat!” Serly lagi-lagi berteriak. Suara yang biasa terdengar lembut dan hangat itu kini bergetar ketakutan. Kakinya yang jenjang terus melangkah ke belakang. Menghindar.
Bryan terlihat khawatir, namun apalah daya jika ia mendekat maka gadis itu semakin menjauh. Wajahnya yang penuh darah berkerut frustasi. “Dengarkan aku dulu, Serly!”
“Tidak! Kau pembunuh! Pembunuh ...!” Jari telunjuk Serly gemetar kala menunjuk sebuah kepala yang ditenteng oleh Bryan. “Kau pembunuh! Tega-teganya kau membunuh Ken! Dia sahabat kita berdua” Air mata semakin merebak di pelupuk gadis berambut hitam itu. Tak tertahankan, hingga jatuh lalu mengalir deras di pipi mulusnya. Tangisnya meledak seketika.
Bryan melempar kepala itu sembarang arah, lalu menyongsong maju bermaksud menenangkan Serly dengan memeluk Serly. Namun sama seperti sebelumnya, gadis itu terus menghindar mundur. Dia akhirnya mematung. Menunduk. Mengepalkan tangannya yang bergetar, dan aku dapat melihat jika wajahnya memerah menahan amarah.
“Aku membunuhnya karena kau lebih mencintainya! Itu tak adil. Sangat tak adil! Akulah yang selalu bersamamu, namun dia yang mendapatkan cintamu!” teriak Bryan kemudian. “Aku mencintaimu, dan kau tau itu, tapi dirimu lebih memilih laki-laki seperti dia!” Tatapan matanya kini tajam seperti mengancam.
Bibir Serly kelu. Semua kata-kata pembelaan tertahan begitu saja di lidahnya. Dia tak berkata-kata. Masih dengan badan yang bergetar.
Sekali lagi Bryan melangkah, namun tangan gadis itu terangkat mencegahnya. Dengan susah payah Serly mengangkat wajah cantiknya yang sembap. “Aku mencintai Ken, bukan dirimu Bryan. Tak ada yang bisa mengatur perasaan cinta datang kepada siapa saja,” terangnya kemudian.
Percakapan itu berlanjut dengan bentakan-bentakan dari Bryan. Terdengar sarat akan emosi. Tak terkendali. Dan ... mengerikan.
Ingin sekali aku melerai perdebatan mereka berdua, namun aku tak bisa. Aku terjebak dan tak bisa bergerak.
Hingga akhirnya, dengan kaki yang menghentak-hentak, Bryan menuju gadis yang tak berdaya itu, tak lupa juga dengan pisau tajam penuh darah yang dia angkat tinggi-tinggi.
Serly kalap. Ia segera menjauh.
Oh tidak! Ingin sekali aku berteriak “Jangan!”. Namun tak pernah ada yang terucap.
Sedetik kemudian Serly jatuh. Tertelan kegelapan jurang yang sedari tadi menantinya tepat di belakangnya.
Bryan menatap kejadian itu dengan datar. Namun tiba-tiba dia menghampiriku. Tak ada yang bisa kuperbuat. Hanya diam.
Perlahan, lembut dan hati-hati, ia mengelusku. “Pohon ini menjadi saksi bisu semua kenangan kita .... Kita semua!” Itulah ucapnya sambil meraba tiga nama di batangku. Serly. Ken. Bryan.
***
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.