Breaking News
recent

EDISI 3, ANNARIO - FLASH FICTION



Annario
Oleh Ripki Aripianto

Segenggam bunga tabur ini semoga menjadi pengharum yang menembus ke dalam ruang gelapmu. Pewarna dinding rumah barumu. Sayang, tenanglah dalam pembaringan. Doa senantiasa kusenandungkan tiap malam, kepada-Nya; untukmu.
Walau tiada lagi elok wajah nyata yang bisa kuraba. Tapi setidaknya aku masih bisa mengecup sebingkai gambar ini. Peninggalan hidup di kala kau masih bernapas, Sayang.
Sungguh aku tak bisa membayangkan kemolekan tubuhmu kini berbedak tanah. Membusuk bersama kenangan indah yang pernah kita rajut bersama. Selendang-selendang cinta yang merangkul kita dalam dinginnya malam, kini lenyap. Lenyap oleh aksara Tuhan yang tertulis di lembaran takdir.
"Rio ...." 
"Siapa kau?!"
"Apa kau tak mengenaliku, Sayang? Aku Anna, kekasihmu."
Rio menajamkan pandangannya ke balik jendela. Dahinya berkerut. Matanya ingin melompat tatkala mendapati sosok Anna berada di sana. Kekasihnya yang seminggu lalu meninggal dunia kini tengah melayang-layang, kembali di hadapan matanya.
"Bu-bukankah kau sudah mati?!" tanya Rio dengan nada gemetar. Dia menghentikan gerakan jarinya yang sedari tadi menari bersama pena.
"Sayang ...." Anna melambai, memanggil Rio yang mulai memucat di meja kerjanya.
"T-tidak! Kau bukan Anna!" Rio berteriak. Seketika itu pula sosok Anna memudar, lalu hilang dari pandangan.
"Sayang ...." 
"Aaargh ...!" Rio terkejut. Dia terjungkal jatuh dari kursi ketika sosok Anna tiba-tiba saja ada di belakangnya. Rio merangkak ke sudut ruangan.
"Kau bilang kita sehidup semati. Tapi kau masih hidup, Rio sayang. Sekarang ikutlah denganku!"
"Tidak ...!"
Sosok Anna merasuk ke tubuh Rio, membimbingnya untuk pergi bersama-sama melalui jendela tadi. Meninggalkan kamar Rio yang ada di lantai 13 apartemen mewah itu.
***
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.