Breaking News
recent

EDISI 3, KANDY - CERPEN HOROR




KANDY
Oleh Kartika Demia

Awan Desember meriung di langit Kota Malang, menyiapkan benih-benih hujan di atas bangunan tua Rumah Sakit Lavalette. Pada minggu kedua bulan ini aku terbaring di kamar pasien setelah dilakukan operasi kecil pada tulang lenganku akibat kecelakaan yang menimpaku. Sebenarnya aku merasa bugar, tapi dokter menganjurkanku untuk dirawat di sini sampai kurang lebih dua hari berikutnya.
Kandy Yosefine, pasien satu kamar denganku. Tak pernah bicara satu kata pun dan tak pernah menjawab jika aku menyapanya. Kepalanya tersembunyi di balik buku tebal dengan tulisan latin di sampulnya.
"Selamat pagi. Saatnya cek kesehatan." Dua perawat memasuki kamar sambil membawa kursi roda.
"Halo, Mila," sapa salah seorang kepadaku yang kubalas dengan senyuman.
Perawat yang lain memegang Kandy, "Kita akan mencoba tes kedua ya, Kandy."
"Aku bukan Kandy!" bentak gadis itu marah.
Hah? Kenapa gadis itu? Acuh. Kedua perawat itu pun langsung memegang dan memindahkan Kandy ke kursi roda. Terperanjatlah aku mengetahui bahwa ia tak memiliki kaki. Ya, kedua kakinya benar-benar tidak ada. Kandy meronta-ronta sambil memandangiku.
***
Teman sekolahku datang siang ini, membuatku lebih rileks dari sebelumnya. Setelah aku tahu gadis sekamarku itu mengidap kanker tulang. Seminggu yang lalu kedua kakinya di amputasi. Dan kata dokter, segera kedua tangannya juga akan menyusul. Yang paling aneh adalah gadis itu marah jika ada yang memanggilnya Kandy.
Seorang psikiater, dr. Lisa. Juga menemaninya beberapa waktu. Kata beliau, Kandy mengalami depresi. Aku akhirnya paham atas kelakuan dan ketakutannya. Takut menjadi cacat yang berujung pengingkaran atas dirinya sendiri. Ya, Tuhan ..., betapa malangnya gadis itu.
Sudah pukul 12 malam, tapi kami masih terjaga tanpa bicara. Suara langkah kaki dan kereta pasien terdengar dari luar memecah sepi.
"Mereka sedang mengecek kesehatan para pasien,” ucap Kandy tiba-tiba.
Aku terhenyak sebentar. Kagum atau tak percaya tiba-tiba saja saja ia bicara denganku. "Apa maksudmu? Di jam segini?" tanyaku.
Kemudian ia mencondongkan badannya ke arahku, "Mereka sedang mengecek kesehatan para pasien hantu.
Heh? Apa? Anak ini konyol. "Kau baik-baik saja, Kandy?" tanyaku halus.
"Aku bukan Kandy! Sudah kubilang aku bukan Kandy!" teriaknya marah.
Ya Tuhan, aku lupa kalau ia tak mau dipanggil Kandy! "Eh, iya ... maaf. Kamu tahu, hanya ada kita berdua di kamar ini dan aku ingin berhubungan baik denganmu," ujarku basa-basi. "Maafkan aku. Jadi ... aku boleh memanggilmu dengan nama siapa?"
"Diam .... Mereka melewati kamar kita," katanya lirih.
Kami mendengar suara langkah kaki dan kereta itu dengan jelas di seberang pintu kamar lalu menghilang. Hawa dingin sekejap menyerang tengkukku. Kandy menyeringai lebar, dan yang diucapkannya barusan itu agak membuatku takut.
“Kamu aneh,” ujarku seraya menutup badanku dengan selimut dan mencoba untuk tidur.
Saat itu pula sayup-sayup kudengar Kandy menyanyi. Suaranya merdu. Entah apa yang dinyanyikannya. Ia menyanyi dengan bahasa asing. Nyanyian indahnya seperti lagu nina bobo yang menidurkanku, dan aku pun terlelap.
***
Siang ini Kandy membuatku jengkel. Kejengkelanku bermula saat Mamaku datang menjengukku dan akan memakai kamar mandi di ruangan ini, dan Kandy bersikeras melarangnya. “Kamar mandi itu sedang dipakai, jangan dimasuki” ujarnya.
"Kamar mandi itu kosong, maksudmu ada hantu mandi di dalamnya?" Aku terkekeh. Candaanku itu tidak membuat Mamaku tertawa. Mama memang penakut dan aku lupa itu. Akhirnya ia pergi keluar mencari kamar mandi lain. "Kamu berhasil membuat Mamaku takut," ujarku jengkel pada Kandy.
“Aku bisa melihat hantu,” ucap Kandy dengan suara keringnya. “dan asal kamu tahu, ‘sesuatu’ di kamar mandi itu bisa saja marah jika kamu usik!”
Persetan dengan apa pun yang diucapkannya. Gadis ini depresi. Lama-lama aku bisa ikutan gila jika terus bersamanya.
***
Karena besok pagi aku boleh pulang. Seharusnya aku tidur dengan tenang malam ini, tapi kenyataan berkata lain. Sebaliknya, kulihat Kandy terlelap di balik selimutnya. Aku pun terjaga sendirian di kamar ini.
Di sudut meja pembatas ranjang kami, tergeletak buku tebal milik Kandy. Kovernya yang misterius cukup membuatku penasaran. Bertuliskan huruf latin yang tidak aku mengerti. Aku mulai membukanya.
Hah? Apa ini? Ini seperti diary. Penuh coretan dan gambar-gambar ... pembunuhan?
TRASH!!!
Aku terlonjak mendengar suara keran air di kamar mandi yang tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan air.
Hah? Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba keran itu terbuka? Hantu? Ya, Tuhan ..., aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang, dan bulu kudukku yang mulai berdiri. Kudengar dengan saksama lagi.
Air itu benar-benar mengalir! Tapi aku bukanlah orang yang penakut! Apa yang kamu pikirkan, Mila?! Bisa saja keran air itu memang rusak dan tiba-tiba menyala! Tunggu apa lagi, coba cek sekarang!
Tanpa ragu aku berdiri dan menuju kamar mandi. Ruangan kecil itu tertutup dan aku masih bisa mendengar suara air itu. Jangan berlama-lama, Mila ..., buka pintu itu!
Gemetar tanganku memegang kenop pintu, terasa dingin di kulitku. Kuputar dan kubuka pintu itu.
Tidak ada siapa- siapa. Dan keran air itu memang benar terbuka!
Aku langsung memutar keran air tersebut agar airnya tak lagi keluar. Kupukul-pukul ringan keran itu. Ada apa dengan keran ini? Mungkin benar kalau keran ini rusak? Berpikirlah positif, Mila!
Setelah itu aku bergegas kembali ke ranjang, tapi kudengar sesuatu lagi.
TAP TAP TAP.
Suara langkah kaki, dan ... kereta pasien yang didorong. Seketika aku ingat apa yang pernah dikatakan Kandy kemarin malam, bahwa mereka sedang mengecek kesehatan para pasien hantu. Ah, apakah Kandy hanya menakutiku saja? Tapi bagaimana dengan coretan di buku diary-nya? Tapi tiba- tiba aku merasakan bulu kudukku merinding lagi. Dan suara itu semakin jelas.
Aku lalu menuju pintu depan di antara cahaya ruangan kamar yang remang-remang. Kulangkahkan kaki dan berhenti di depan pintu. Suara itu semakin mendekat dan mendekat. Terasa dekat sekali karena suara itu pas di balik pintu dimana aku sedang berdiri sekarang. Di bawah celah pintu aku bisa melihat bayangan langkah kaki itu melewati ruangan ini dan menjauh. Aku sedikit gemetar tapi rasa penasaranku lebih besar dari apa pun! Suara langkah kaki dan kereta itu semakin menjauh.
Aku membuka pintu dan mengintip sedikit. Ada apa di luaran sana? Agak samar kulihat tampak dua orang perawat. Ya, dua orang perawat yang salah seorang membawa map dan seorang lagi mendorong kereta kosong.
Tapi ... astaga! Aku memekik kaget. Mereka berdua tanpa kepala!
Ap-ap-aa ... apaa mereka hantu?!
Kakiku gemetar, aku masih syok. Kututup pintu lalu mundur dan, "Aaww!" kakiku menyentuh sesuatu yang keras. Aku menoleh ke belakang dan betapa kagetnya aku tiba-tiba Kandy sudah berada di belakangku sambil duduk di kursi rodanya.
Apa? Bagaimana dia bisa berada di sini? Bagaimana dia bisa turun dari ranjangnya lalu duduk di kursi rodanya sendiri tanpa menimbulkan suara berisik sedikit pun?
"Kamu melihatnya?" tanyanya.
"Bagaimana bisa kamu—" tanyaku tiba-tiba tapi langsung dipotong olehnya. "Apa kamu takut?" tanyanya datar.
Ini benar-benar malam yang aneh. Suara keran air, dua hantu perawat tak berkepala, dan Kandy. Ya, Tuhan ... aku benar-benar ingin cepat pergi dari tempat ini!
"Apa kamu takut?" Kandy bertanya lagi. Sebenarnya aku juga masih penasaran dengan gadis ini. Ia benar-benar aneh!
"Tidak. Aku tidak takut. Aku tidak takut pada apapun!" jawabku tegas kepadanya.
Aku memang tidak takut. Aku tidak akan takut pada apa pun. Aku tidak takut pada hantu. Aku tidak takut pada dua hantu perawat itu. Sekalipun Kandy itu hantu aku juga tidak takut kepadanya. Apa yang bisa dilakukan seorang hantu tanpa kepala ataupun seorang tanpa kaki terhadapku?
Ini sungguh konyol. Sepertinya aku butuh obat penenang agar aku bisa tidur. Aku tak habis pikir. Apakah yang kulihat itu nyata atau hanya imajinasiku saja?
Saat itu Kandy mulai menyanyi lagi. Pikiranku benar-benar tidak tenang. Aku ingin malam ini cepat berlalu. Entah mengapa nyanyian Kandy membuatku tenang dan mengantuk. Aku benar-benar tertidur dan terbuai dalam mimpi.
Dalam mimpi aku melihat Kandy sedang menyanyi, suaranya sangat indah. Dan anehnya kulihat Kandy juga menari. Hah? Apakah Kandy memiliki kedua kakinya?
Ia menyanyi dan menari-nari riang dengan gembira. Lalu kulihat ia semakin menjauh dan menjauh.
***
"Selamat pagi ...! Kamu bisa pulang hari ini, Mila," ucap ramah seorang perawat sambil membuka tirai sekat.
Aku mengucek mataku karena baru bangun dan agak malas. Beberapa perawat lain masuk dan dua orang dokter, salah satunya adalah dr. Lisa.
"Maaf, Kandy, ini demi kesembuhanmu. Kami akan melakukan operasi pada kedua tanganmu," kata dokter itu. Tapi aku tidak mendengar suara amarah Kandy seperti biasa jika namanya disebut. Apakah ia sudah menerima semua kenyataan ini?
Tiba-tiba dua orang perawat memegangiku dan memindahkanku ke kursi roda. ”Hah? Ada apa, Sus? Apa ada yang salah denganku?”
Hey! Kenapa aku tidak punya kaki?! Aku melihat kakiku tidak ada pada tempatnya! Sontak aku gemetar. Syok.
"Suster! Di mana kakiku?!" teriakku histeris.
"Kamu harus kuat, ya ...," kata dr. Lisa dengan lembut kepadaku.
Aku melihat ... aku melihat sosokku sendiri di ranjang sebelahku sedang tersenyum.
"Kamu harus bertahan hidup, Kandy," ujarnya dengan seringai lebar.
Kenapa ada tubuhku di sana?! Apakah ia barusan memanggilku Kandy?!
"Hey! Aku bukan Kandy!" teriakku histeris. Sosok yang mirip sekali denganku itu ... ah, apa maksud semua ini?! Apa yang terjadi? Kenapa dengan kakiku? Kenapa semua orang memanggilku Kandy? Lalu sosokku di sana tersenyum dan memanggilku Kandy? Apa yang terjadi?!
Aku tiba-tiba paham dan menyadari sesuatu. Sosok di sana adalah Kandy yang sebenarnya dan ia mengambil alih tubuhku! Siapa ia sebenarnya? ‘Apa’ ia sebenarnya??
"Kamu mengambil alih tubuhku?!" teriakku pada sosok diriku sendiri di seberang ranjang.
Dr. Lisa mengelus rambutku.
"Tidak! Apa yang ia lakukan padaku!?" teriakku.
Kulihat Kandy—maksudku Mila—menyeringai.
"A-pa kamu?" lirihku. Apa dia? Iblis?
Para perawat mulai membawaku pergi.
Aku meraung-raung dan berteriak, "Aku bukan Kandy! Seseorang percayalah padaku! Aku bukan Kandy ...!!!"
***
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.