Breaking News
recent

EDISI 4, CERPEN BEBAS

Parade Cerpen Bebas Tak Wajar 
Oleh: Oetep
Kalau saja aku mengatakan kalimat itu jauh lebih cepat dari yang kurencanakan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang ini. Entah aku harus bersyukur, atau sebaliknya: menyesalinya. Tapi, semua yang terjadi tetaplah tidak bisa diulangi. Ini hukum alam. Kalaupun hal ini bisa dilakukan--mengulang waktu, aku yakin orang itu sedang bermimpi. 

Kejadiannya mungkin sudah sangat lama, bahkan untuk menceritakannya kembali, sebagian memori otakku tak mampu terkoneksi dengan jitu. Anggap saja cerita yang akan kukisahkan ini sebuah buku novel yang salah satu atau beberapa lembarnya hilang, mungkin disobek oleh pemiliknya. Adalah Yunita yang kelak akan menjadi perempuan yang sangat aku kagumi. Wajahnya tidak spesial, selain bola mata yang besar selayaknya tokoh perempuan di film-film kartun Jepang--Candy Candy, misalnya. 

Kenapa tidak mengagumi Erlita yang cantik sempurna? Atau Nunu, perempuan blasteran Indo-Jerman, atau Rani yang keturanan India? Entahlah. Yang pasti rasa kagum itu tidak bisa dipaksakan. Perkara siapa mengagumi siapa, itu tak lebih dari misteri yang sulit dipecahkan. Kembali kepada Yunita. Bukankah aku telah mengatakannya, bahwa tak ada yang spesial dalam dirinya kecuali bola mata besarnya? Bukan. Bukan itu yang membuatku bersikeras untuk mengaguminya. Hal lain. Dia baik dan selalu mengajakku ikut serta ke mana pun ia bergegas. Ke taman sekolah. Ke ruang perpustakaan. Ke sudut kelas yang ditumbuhi rerimbun pohon cemara. 

Bahkan, ke tempat paling rahasia yang orang lain tidak akan pernah mendatanginya: belakang wc umum sekolah. Ini gila! Tentu saja ini gila. Cinta memang terkadang begitu; bisa membuatmu melakukan hal-hal gila. Cinta? Sebenarnya aku hanya menyebutnya demikian, padahal artinya sendiri aku jelas-jelas tidak tahu. Aku mengaguminya, bukan mencintainya. Kagum dan cinta memiliki arti harfiah yang berbeda bukan? Di balik tembok wc umum sekolah itu, aku kerap bercerita. Tentang apapun: binatang peliharaan, acara televisi pavorit, hingga orang tua siapa yang paling kaya. Terdengar nggak wajar memang. 

Namun, kenyataannya memang demikian. Di sana, aku dan dirinya kerap tertawa terbahak-bahak hingga lupa waktu. Bahkan, suatu saat kami tak menyadari bahwa jam pulang sudah saatnya. Terkuncilah kami di dalam sekolah, hingga orang tua kami panik mendapati anak-anaknya belum pulang padahal sudah hampir sore. Kalau saja aku mengatakan kalimat tersebut jauh lebih cepat dari rencana semula, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku mencintainya saat itu, walau sebenarnya aku memulainya dengan rasa kagum. Aku berani mengatakannya itu cinta setelah hari ini. Sebab, kala itu aku sama sekali tak paham artinya. 

Untung saja aku tidak mengatakannya saat itu. Kalaupun iya, jawabannya mungkin akan jauh berbeda dengan jawaban yang sekarang akan saya dengar dari bibirnya yang mulai ranum. Ini untuk pertemuan kedua kami setelah lama terpisah. "Aku mencintaimu, Yun. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya?" Kalimat itu kurang lebih sama dengan kalimat yang ingin kukatakan kala itu. Kalian tahu, aku hampir mengatakannya kalau saja ia tidak bergegas pergi pada hari terakhirnya menjadi salah satu murid kelas 4 SD 05 Kerta Jaya. Aku kurang seperempat menit dari waktu yang telah kurencanakan. Terdiamlah aku menatapi meja kosong tempatnya belajar--aku duduk tepat di samping mejanya. "Maaf, aku sudah bertunangan," ucap Yunita sesaat setelah kutanyakan kalimat yang dulu pernah mau kukemukakan. Terdiamlah aku, sama persis dengan kejadian kala itu; menatapi meja kosong. Cinta memang gila. Kadang tak wajar. 

Cibatu, 23 November 2015
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.