Breaking News
recent

EDISI 4, FLASH FICTION

SELEPAS PULANG
Oleh Winda Puspa Permono


Cklek ....

Kubuka pintu kamar kos tepat saat suara azan magrib berkumandang. Dengan langkah gontai segera kubanting ransel ke lantai. Kemudian menyalakan lampu dan kuhempas tubuh di atas kasur butut yang hanya berlapis kain seprai tipis. Hawa pengap segera menyergap indera penciuman, membuatku bersin hingga dua kali. Tapi aku tak peduli. Aku sangat lelah. Baru saja menempuh perjalanan jauh dari kampung ke Ibukota. Kembali masuk kuliah setelah sebulan pulang karena libur semester. Ditengah kepenatan yang mendera, aku hanya menatap langit-langit kamar. Sarang laba-laba bermunculan di permukaan tembok yang retak. Satu dua cicak merayap, dan tiba-tiba kelopak mataku terasa berat.

***

Ramai. Ramai sekali yang kudengar, mengganggu tidurku yang pulas. Suara-suara yang sepertinya berasal dari balik tembok kamar kos. Kulihat jam tangan, pukul 11 malam. Aku mendengus kesal, samar-samar terdengar seperti suara penggorengan. Entahlah. Mungkin lebih tepatnya seperti sesuatu yang tengah digoreng, dan tawa terbahak banyak laki-laki.

"Hahaha .... Tambah dagingnya dong, Neng."

"Minumnya juga dong .... Hahaha ...."

Seperti suasana sebuah warung. Berisik.

Aku mengernyit sesaat, kamarku memang paling pojok. Dan tembok kamar memang berdempet dengan tembok samping sebuah rumah sederhana milik Bu Retno, seorang janda yang selalu ramah menyapa saat aku melintas di depan rumahnya. Ah, ini pasti warungnya Bu Retno, seperti apa yang pernah ia katakan padaku. Bahwa ia sangat ingin membuka warung untuk menambah pemasukan keuangannya. Baiklah, aku kan mencoba memahami situasi ini. Kuubah posisi tidur menghadap tembok, kututup telinga dengan bantal. Namun aroma daging ayam yang tengah digoreng, membuat perutku berbunyi. Aku lapar dan tak ada makanan. Baiklah, Bu Retno pasti bisa membantu.

***

Cklek ....

Kukunci pintu kamar. Hawa dingin malam langsung menyergap tubuhku. Terlihat Ibu kos tengah berdiri di depan kamar yang berjarak dua pintu dari kamarku. Seingatku kamar itu kosong. Kuberanikan untuk menghampiri.

"Eh, Nak Qiqi, sudah balik?" tanya Bu kos datar tanpa senyum. Wajahnya sedikit pucat, mungkin sedang sakit.

"Iya, Bu," jawabku tersenyum, "Ibu sakit, ya?"

"Ah enggak, capek aja abis bersihin kamar. Nak Qiqi mau kemana?"

"Mau cari makan, Bu. Bu Retno buka warung, ya, Bu?"

"Kamu denger juga suara itu? Udah jangan didengerin, emang suka begitu belakangan ini. Ibu juga denger kok, udah ibu mau balik dulu." Ibu kos pun berbalik, berjalan lalu menghilang di balik tembok.

Sedangkan aku masih terdiam. Dari jawaban Ibu kos, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil. Jadi suara itu hanyalah ....

Tiba-tiba bulu kudukku meremang, ditambah semilir angin malam yang membuat tengkukku terasa dingin. Aku masih saja berdiri saat Bang Arip datang—pemilik kamar tepat di sebelah kamarku. Pasti ia habis pulang kerja.

"Woi, Qi, udah balik?" sapa Bang Arip menepuk pundakku dengan senyum yang semringah. Lelaki 27 tahun ini memang akrab denganku.

"E-eh... iya, Bang, tadi abis magrib," jawabku dengan senyum yang terpaksa. Aku masih teringat kata-kata Ibu kos barusan.

"Lha, napa lu pucet begitu?" tanya Bang Arip sambil mengernyitkan dahi.

"Enggak, Bang, tadi cuma ngobrol sama Ibu kos soal—"

"Ibu kos?" tanya Bang Arip lagi, memotong pembicaraanku.

"Iya, Bang, sama Ibu kos barusan, soal—"

"Ibu kos udah seminggu mudik, Qi," jawab Bang Arip memotong pembicaraanku lagi, dan yang ini berhasil membuat lututku lemas.

***

Sidoarjo, 26 November 2015.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.