Breaking News
recent

EDISI 4, PARADE HOROR

ISOLATED
Oleh Ripki Aripianto



Ketukan di pintu dan jendela masih berbunyi. Tak terbayang berapa banyak sosok mereka di luar sana. Puluhan? Pasti lebih. Ya, lebih banyak dari itu.

***

"Sam ...?! Ap-apa yang harus kita lakukan, Sam?!" Jeany semakin memucat. Tubuhnya bergetar. Dia ketakutan bercampur panik.

"Tenanglah, Jean," jawab Sam. "kita pasti bisa keluar dari sini," sambungnya menjelaskan.

"Sudah kubilang dari awal, bukan? Mengapa kau abaikan tulisan di atas papan tadi? Sekarang ... sekarang kau lihat sendiri, bulan madu kita rusak, Sam. Hancur!"

"Diamlah ...! Ini bukan waktunya untuk berdebat ...," sahut Sam. "Ya, Jean, aku memang salah karena mengabaikan papan peringatan yang bertuliskan 'ISOLATED' di hutan jati tadi. Maafkan aku."

"Ya, ya, ya ... juga membuat kita terjebak di kampung halamanmu ini! Juga rumah ini! Hmm ... rumah ini bahkan sudah tak layak disebut rumah, Sam," sindir Jeany masih tidak terima dengan semua kekacauan yang terjadi.

"Bukankah aku sudah meminta maaf padamu?! Aku tak tahu jika kampung halamanku sudah berubah menjadi seperti in—"

"Dua puluh tahun, Sam, ingat! Kau sudah dua puluh tahun tidak ke sini!" ucap Jeany memotong dengan nada tinggi penuh amarah.

"Oh, Jean, sekali lagi maafkan ak—"

Bruak ... bruaaakkk ....

"Shit! Jean ..., cepat kau periksa pintu belakang! Lindungi dirimu! Ambil apa pun yang bisa dijadikan senjata!" perintah Sam yang langsung merapatkan tubuhnya ke pintu, menahan dobrakan makhluk-makhluk aneh dari luar. Sementara Jeany masih terkejut dan mematung.

"Cepat, tunggu apa lagi?!" teriak Sam menyadarkan istrinya itu.

"B-baik, Sam," jawab Jeany yang langsung melangkahnya untuk memeriksa pintu belakang.

"Shit! Makhluk apa sebenarnya kalian?" Sam bergumam, masih menahan dorongan agar pintu tak terdobrak.

Beberapa menit berlalu. Sam mulai kehabisan tenaga. Sebelum akhirnya Jeany kembali membawa sebilah pedang dan senapan, lengkap dengan sekotak peluru yang dia temukan di dekat perapian rumah itu.

"Bagaimana?" tanya Sam kemudian.

"Pintu belakang aman. Ayo kita pergi dari sini!" kata Jeany sambil menyerahkan senapan kepada suaminya.

Sam melonggarkan pertahanan. Namun tatapan matanya tajam, tetap mengarah pada pintu yang perlahan mulai terbuka. Senapannya telah terkokang. Telunjuknya siaga pada pelatuk. Saat itu pula sesosok makhluk mulai masuk.

"God damn it! Ap-apa itu, Sam?!" Jeany terbelalak melihat makhluk itu. Berbentuk manusia, namun pucat berdarah seperti mayat korban pembunuhan.

"Aku tak tahu, Jean."

Mayat hidup itu menyeringai, gerakannya lambat namun terlihat siap untuk menyerang. Geramannya menakutkan. Satu demi satu, semakin banyak yang masuk.

"Lari, Jean ...!" teriak Sam bersamaan dengan suara senapan yang meletup. Satu makhluk mengerikan itu roboh dengan lubang di kepala. Memberi jeda bagi Sam untuk langsung menyusul Jeany yang sudah menunggu di pintu belakang.

***

"Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Jeany kepada Sam. Mereka masih terus berjalan dengan siaga. Menjauh dari kejaran mayat hidup tadi.

"Aku tak tahu, Jean sayang," jawab Sam diiringi tarikan napas Jeany yang panjang, sepertinya mulai hilang harapan.

Jeany langsung terduduk di tengah jalan. Tatapannya kosong. Dia menangis. Sulit sekali ditenangkan. Hingga tanpa sadar mereka berdua telah terkepung oleh puluhan mayat hidup.

"Jean, ayo kita pergi dari sini!" suara Sam seirama letup-letup senapan. Butir demi butir peluru meluncur dari laras panjang, tepat menembus mayat-mayat hidup yang semakin mendekat.

Jeany masih bergeming seakan tak peduli dengan sekitar. Mungkin dia sudah pasrah, tak peduli lagi walaupun harus mati.

Sam terus melakukan perlawanan. Setelah kotak amunisi habis, kini Sam menggunakan pedang. Ayunan tangannya membabi buta. Menebas bagian tubuh mayat hidup, hingga ada beberapa yang terputus. Namun tetap saja tak seampuh senapan, perlawanan kali ini sangat menguras tenaga. Mayat-mayat hidup itu tidak tumbang walau ditusuk tepat ke jantung mereka. Sampai pada suatu ketika, Sam mencoba menebas leher salah satu makhluk tersebut, membelah kepala target hingga otak jatuh berceceran, dan berhasil. Kini Sam menyadari kelemahan mayat hidup itu ada di kepalanya.

"Jean ...!" Sam menghampiri istrinya. Dia ikut duduk karena kelelahan. Tenaganya benar-benar habis karena melawan puluhan mayat hidup. Sedangkan Jeany masih terdiam membisu. Air matanya telah berhenti, tapi tatap matanya masih saja kosong.

Seperti tiada habisnya, mayat hidup terus saja berdatangan. Sam sudah tak mampu lagi untuk melawan. Kini dia hanya bisa memeluk Jeany, istrinya.

"Aku mencintaimu, Jean," ucap Sam lirih, "tenanglah, sebentar lagi kita akan berbulan madu di surga," sambungnya dengan sisa-sia asa.

Tiba-tiba saja gemuruh senapan mesin terdengar. Seketika mayat-mayat hidup jatuh bergelimpangan. Suara senjata itu berasal dari sebuah mobil pick up yang langsung menghampiri Sam dan Jeany. Mobil berwarna silver terhias cipratan darah. Terlihat seorang lelaki di balik kemudi. Sebelah tangannya terjulur keluar, menggenggam senapan mesin, dan masih terus menembaki mayat hidup yang mendekat. "Cepat naik!" katanya berteriak.

Tanpa basa-basi Sam mengangkat Jeany ke atas pick up tersebut. Dia tak peduli lagi akan dibawa ke mana.

***

"Kalian aman di sini!'" kata lelaki itu sambil mengunci pintu. Rumahnya terbuat dari kayu jati, kokoh. Banyak hiasan dinding dari kepala hewan yang diawetkan. Ada juga seekor harimau balsam di sisi sofa yang mereka duduki.

"Terima kasih. Aku Sam, dan ini istriku, Jeany," ucap Sam memperkenalkan diri.

"Aku Bobby. Panggil saja Bob. Itu saja. Hmm ... apa yang terjadi dengan istrimu? Apa dia terluka?"

"Dia ketakutan. Entahlah. Kami ingin berbulan madu di sini, tapi—"

"Mayat hidup itu, heh? Zombie sialan!" Bob memotong sambil memberi secawan anggur kepada Sam. "Minumlah, tenangkan dirimu!"

"Terima kasih. Lalu ... apa yang terjadi sebenarnya? Jujur, ini adalah kampung halamanku. Hanya saja sudah dua puluh tahun aku tidak ke sini."

Bob terkekeh. "Apa kau yakin ingin mengetahuinya?" tanyanya kemudian.

"Ya, tentu saja."

"Well, karena kau lahir di sini, baiklah, aku ceritakan," ucap Bob, kemudian menarik napas panjang dan mulai menjelaskan, "Beberapa bulan lalu, datang seorang peneliti, ilmuwan, atau, entahlah ... aku tak tahu profesi itu, yang jelas dia beserta anak buahnya memberi vaksin untuk ternak sapi di perkampungan ini. Agar cepat gemuk dan bebas penyakit, katanya. Jika menurutmu vaksin itu berhasil, ya ... memang jelas berhasil. Nafsu makan sapi semakin bertambah hingga tak terkendali, dan kanibalisme pun terjadi. Sapi memakan sapi, bayangkan! Bukankah itu justru merugikan peternak?" cerita Bob terhenti sejenak. Dia kembali membasahi kerongkongannya dengan secawan anggur.

"Lalu ...."

"Jelas, beberapa peternak yang tak mau rugi tetap menjual daging sapi mati kepada warga sekitar dengan harga murah. Alhasil, daging yang terkontaminasi vaksin itu dikonsumsi oleh sebagian besar warga. Mereka pun menjadi kanibal setelah stok sapi ternak habis terjual. Namun, anehnya mereka hanya memangsa warga lain yang tidak ikut memakan daging sapi, vegetarian juga jadi mangsa mereka. Kini, sebut saja vaksin itu menjadi virus, tak terkendali, mulai mewabah, membuat mereka seperti mayat hidup."

"Hmm ... bagaimana dengan orang-orang yang memberi vaksin itu?" tanya Sam.

"Mereka tenang di surga. Haha ...," jawab Bob dengan tawa.

"Kau tahu di sini kacau, mengapa masih bertahan?" tanya Sam kemudian.

"Ada suatu kesenangan tersendiri ketika aku membasmi mayat hidup itu. Menolong orang-orang sepertimu, rasanya ... yang jelas aku merasa berguna."

"Tapi kita berbeda. Aku ingin membawa istriku keluar dari tempat ini, Bob. Apa yang harus kulakukan?"

"O, silakan! Ada sebuah mobil di garasi, bahan bakar penuh, lengkap dengan beberapa senjata dan alat perlindungan diri lainnya. Namun jangan sekarang, tunggulah hingga istrimu pulih."

"Terima kasih banyak, Bob," ucap Sam dengan wajah senang.

"Terima kasihmu mungkin akan berharga setelah kau bantu aku, Sam. Karena sepertinya malam ini akan melelahkan. Haha ...."

Bruakk ... bruaaakkk ....

***

Bogor, 19 November 2015.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.