Breaking News
recent

EDISI 4, TEMPAT ANGKER

AURA MISTIS DI LEUWEUNG SANCANG, GARUT

Pada sebagian besar penduduk Garut berpendapat bahwa, salah satu peninggalan paling bersejarah dari masa kejayaan kerajaan Hindu terbesar di Jawa Barat—Padjajaran, yang masih bisa dinikmati aura mistisnya adalah Leuweung Sancang. Tempat di mana, menurut kepercayaan penduduk, Prabu Siliwangi—Raja Padjajaran, ‘tileum’ atau dalam kosakata bahasa Indonesia; hilang secara ghaib.



Objek wisata ini berjarak 2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten Garut. Dan, berjarak kurang-lebih 180 km dari Kota Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus dengan trayek perkebunan karet Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan obyek wisata tersebut, dengan tarif Rp.3.000/orang saja. Atau bisa juga menggunakan jasa angkot dengan tarif Rp.4.000/orang. Apabila menggunakan ojeg, tarifnya Rp.7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500,- dari pantai Cijeruk indah.
Bus yang melalui daerah ini hanya 3 bus/hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dengan lebar jalan 3 m, lantas jalan desa selebar 2,5 m, serta jalan setapak (foot trail) selebar 0,5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam keadaan sedang diperbaiki. di antaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah jembatan beton sepanjang 27 m.

Leuweung Sancang sendiri terletak di arah Selatan Garut berbatasan dengan Kabupaten Tasik Malaya ( dengan perkampungan terakhir bernama Kp. Cigandawesi, Ds. Sancang Kec, Cibalong Pesisir), merupakan hutan cagar alam atau pula termasuk ke dalam hutan konservasi. Luasnya, kurang-lebih 2157 hekto are, dengan ketinggian antara 0-3 meter di atas permukaan laut. Kondisi tanahnya sendiri hanya berupa lahan datar dengan tebing-tebing curam pada sebagian kecil lahan, sementara arah sebelah Timur, atau pun tepatnya daerah Karang Gajah berupa daratan seperti pada kebanyakannya.

Leuweung Sancang dibagi ke dalam tiga wilayah: hutan dataran rendah, hutan mangrove, juga cagar alam pantai. Banyak spesies unik di dalamnya termasuk owa jawa, macan tutul, banteng.

Kontur tanahnya terdiri dari material tanah berpasir, tanah gambut pada sebagian pesisir, dan daratan biasa antara radius 200 meter dari bibir pantai. Temperature udaranya sendiri berkisar 27 derajat celcius/tahun, dengan suhu rata-rata hariannya sekitar 17-28 derajat celcius. Kawasan ini sendiri berupa hutan hujan tropis yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.

Perihal aura mistis yang dipercaya penduduk setempat, erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan Padjajaran yang beragama Hindu, dengan Prabu Siliwangi sebagai rajanya, yang kelak, menurut sejarah, beliau pada akhirnya mengubah diri bersama pasukannya menjadi harimau yang kerap muncul di kawasan tersebut hingga kini.

Menurut riwayat, Prabu Siliwangi beristrikan seorang ratu bernama Dewi Kumalawargi. Dari hasil perkawinannya, mereka dikaruniai seorang puteri bernama Dewi Rara Santang, juga dua orang putera: Prabu Walang Sungsang dan Prabu Kiansantang.

Adalah Prabu Kiansantang yang terkenal kebal dari segala jenis serangan senjata yang merasa diri tak akan ada yang bisa menandingi kesaktiannya. Ia meminta kepada ayahandanya untuk mendatangkan seseorang—siapa pun itu, yang bisa menandingi kesaktiannya. Dicarinya seseorang itu oleh Prabu Siliwangi.

Seorang kakek dating kepada Prabu Kiansantang tentang siapa yang bisa menandingi kesaktiannya. Dia, seseorang yang tinggal di Mekkah bernama Ali, namun, untuk menemuinya ada syarat yang harus dipenuhi. Prabu Kiansantang, tentu saja penasaran. Dan, ia mencoba memenuhi syarat itu.

Sang kakek, menancapkan sebilah tongkat di tanah, dan sang Prabu harus bisa mencabut tongkat itu sebagai syaratnya. Segala kekuatan dikerahkannya, namun kenyataannya tongkat itu tetap geming dari tempatnya. Sang Prabu menyerah, namun dengan mudah sang kakek malah mampu mencabutnya. Terperangahlah Prabu Kiansantang atas kesaktian sang kakek. Ia malah bersedia melakukan apa pun sebagai tanda bahwa ia mengaku kalah sakti. Sang Prabu masuk Islam, berangkatlah ia ke Mekkah menemui Ali, walau sebenarnya kakek itulah Sang Ali.

Setelah masuk Islam—sebelum berangkat ke Mekkah, Prabu Kiansantang membujuk ayahandanya untuk ikut masuk Islam, namun Prabu Siliwangi menolak dengan tegas.

Hamper tujuh tahun Prabu Kiansantang di Mekkah. Setelahnya ia kembali dan tetap berusaha meng-Islamkan Prabu Siliwangi beserta seluruh rakyat Padjajaran. Namun, Prabu Siliwangi bersikeras tetap memeluk agama nenek moyangnya: Hindu. Mendengar kepulangan puteranya, dengan kesaktian yang dimiliki, Prabu Siliwangi mengubah kerajaannya menjadi hutan raya yang kelak di sinilah Leuweung Sancang berada. Tentu saja Prabu Kiansantang kebingungan atas perubahan yang terjadi.

Suatu saat, tanpa diduga Prabu Siliwangi bertemu dengan anaknya. Padahal, ia berusaha menghindari pertemuan itu. Sang putera bertanya: “Bukankah tempat Ayahanda di istana, kenapa ada di hutan? Ayahanda sama sekali tidak pantas berada di sini.” Prabu Siliwangi tak menjawab, sebab, sebenarnya hutan itu adalah istananya. Lantas, Prabu Siliwangi bertanya: “Apa yang harusnya pantas berada di dalam hutan?” Tanpa berpikir panjang, Prabu Kiansantang menjawab: “Tentu saja harimau.” 

Dan, berubahlah Prabu Siliwangi beserta pasukannya menjadi harimau, lantas berlari ke arah goa yang kelak bernama Goa Sancang. Sementara Prabu Kiansantang termangu dan menyesal atas ucapannya.

Semenjak itu, mitos tentang berubahnya Prabu Siliwangi menjadi harimau merebak hingga sekarang. Sebagian besar masyarakat sekitar percaya bahwa harimau yang kerap muncul di seputaran Leuweung Sancang adalah jelmaan Prabu Siliwangi.

Prabu Kiansantang sendiri pada akhirnya tinggal dan meninggal di daerah Godog, Karang Pawitan-Garut. Makam Godok yang kerap dikunjungi peziarah adalah bukti keberadaannya. Prabu Kiansantang memeluk agama Islam hingga akhir hayatnya.

Ada beberapa tokoh penduduk setempat yang mengatakan bahwa kata SANCANG memiliki arti filosofi, yakni:

- S mempunyai arti : Sasakala atawa asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya, yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita semua.

- A mempuilyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah Sancang adalah daerah keramat.

- N mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk direnungkan oleh setiap manusia.

- C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya, yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita semua.

- A yang kedua mempunyai arti : Aya nya carita Pasundan / Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan Padjajaran.

- N mempunyai arti: Negri Padjajaran tilas Siliwangi, yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat kerajaan Padjajaran pernah berdiri.

- G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk Garut, yang berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib sebagaimana Tuhan YME yang sifatnya gaib. Kita selaku manusia harus mempercayai hal-hal ghaib.

Seperti pada kawasan konservasi lain pada umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang berupa fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila pengunjung ingin bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat yang terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan juga terdapat di Kecamatan Pameungpeuk. Adapun jarak yang akan ditempuh sekitar 13 km dari pusat pemerintahan kecamatan.

Ditulis oleh: Utep Sutiana, dari berbagai sumber.

Cibatu-Garut, 07 Desember 2015
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.