Breaking News
recent

EDISI 5, CERPEN HOROR (SEPASANG BOLA MATA)





SEPASANG BOLA MATA
Oleh Oetep Sutiana

Lolongan suara paraunya masih menggaung di dalam ruangan sempit dan pengap itu. Amis darah menguar, sementara tubuhnya kelojotan di atas lantai tegel. Beberapa luka memanjang ternganga di hampir seluruh bagian tubuhnya yang nyaris telanjang. Ada darah menggenang di mana-mana.
Sementara tubuh perempuan di hadapannya mengerang menahan sakit. Dia, sosok bertopeng tengah terbahak-bahak puas. Dia lantas bergegas bergerak ke arah tubuh perempuan yang gelombang dadanya turun-naik mulai tersengal.
"Rasa sakit dibalas sakit," ucapnya serasa menginjak kepala perempuan itu. Yang diinjak kembali melolong parau. Wajah perempuan itu nyaris tak berupa oleh darah. Pada kedua ceruk matanya, darah kental menggenang.
"Ini untuk kelancanganmu menghancurkan kehidupanku," lanjutnya seraya mencongkel kedua bola mata perempuan itu. Sosok bertopeng itu menggenggam erat kedua bola mata itu.
"Untuk suamiku," teriaknya lantang. Tak ada lolongan lagi dari perempuan itu. Sebab injakkan keras terakhir dari sosok bertopeng ini meretakkan batok kepalanya.
Senyap setelahnya. Ruangan menjadi sunyi.
***
Badra tak habis pikir, kenapa setelah hampir seminggu Lastri tak kunjung datang ke rumahnya. Padahal, terakhir bertemu Lastri baik-baik saja.
"Kamu kenapa, Mas? Sepertinya sedang gelisah?" Indri, istrinya bertanya seolah mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh suaminya itu.
Badra menautkan kedua ujung alisnya. Dia kebingungan. Bagaimana tidak bingung? Indri ternyata bisa mengetahui kegelisahannya, sedang istrinya itu tidak bisa melihat. Sebulan lalu, istrinya dinyatakan buta sebab katarak. Bola matanya terlihat normal, walau sebenarnya dia sama sekali tidak bisa melihat.
Badra tak mengantarnya periksa, cuma dia tahu setelah Indri pulang dari rumah sakit dalam keadaan dituntun. Operasi kataraknya gagal.
"Kok kamu bisa tahu kalau aku sedang gelisah?" tanya Badra setengah heran.
"Gimana enggak tahu? Lha Mas terdengar mondar-mandir tak keruan. Langkahmu masih bisa aku dengar. Aku buta, Mas. Tapi, tidak tuli," ucap Indri sambil tersenyum sinis.
Iya juga, pikir Badra.
"Memang Mas gelisah kenapa?"
"Euuu ... tidak. Tidak apa-apa."
Indri berdiri. Menggapai-gapai udara kosong di hadapannya. Diaa berjalan dengan meraba-raba. Tongkat kayunya setia menuntunnya. Sementara Badra tersenyum acuh.
Pikiran Badra kembali ke Lastri—perempuan yang tanpa sepengetahuan istrinya telah dia pacari. Berulang kali dia membawa Lastri ke rumah. Tentu saja Indri tidak tahu. Bukankah istrinya buta. Badra punya cara agar perselingkuhan di rumahnya sendiri tak tercium. Mengibuli orang buta, gampang bukan?
Cukup datang mengendap-endap, masuk kamar, mengunci kamar lantas bersanggama. Tak mungkin Indri mengetahuinya. Mudah bukan? Begitu yang dipikirkan Badra. Terlalu bodoh. Tapi, sebenarnya dia sudah tak peduli jika Indri pada akhirnya tahu. Sebab, dia juga akan menceraikan istrinya itu jika keadaan itu sampai terjadi.
Itu yang kerap dilakukan Badra dan Lastri. Sementara Indri hanya asyik mendengar radio di ruang tengah. Kadang, saat Indri sudah tidur di kamar, sementara Badra dan Lastri asyik bermesraan di ruang tengah.
Indri tahu, kapan suaminya berangkat dan pulang. Selebihnya, dia tak tahu.
"Kopi, Mas!" Dengan meraba-raba, Indri meletakkan gelas kopi di hadapan suaminya. Indri sudah tahu letak-letak perabotan rumahnya. Jadi, sama sekali dia tak perlu tersaruk dan menubruk benda-benda.
Badra meniupi gelas kopi itu, perlahan-lahan.
"Piuuuh!!!" Badra serta-merta memuntahkan seruputan kopinya itu. Dia melonjak. "Kopi apa ini?" bentaknya. "Enggak enak. Bau amis!" semprotnya lagi.
Indri sama sekali tak terkejut dengan makian suaminya. Dia tertawa aneh. "Masa sih, Mas?" tanyanya datar.
Badra segera mengaduk-aduk kopinya yang sudah tidak terlalu panas itu dengan telunjuknya. Sesuatu yang kenyal terasa di ujung rangsang kulitnya. Dia penasaran. Ditumpahkannya kopi itu di lantai. Betapa terkejutnya dia mendapati benda apa yang ada di dalam kopinya. Dua buah benda bulat dengan ujung ada belalai tipis. Sepasang bola mata.
Badra melotot tercekat, wajahnya memucat, lantas memandang marah kepada istrinya.
"Kamu gila, Indri! Lihat apa yang ada dalam kopiku!"
"Ada apa, Mas?" Indri masih berucap dingin. "Gimana aku bisa lihat, aku ‘kan buta."
"Bola mata!" teriak Badra.
"Oh." Kali ini, Indri menyeringai lantas berdiri mendekat. Dia tak lagi meraba-raba. Langkahnya normal tidak seperti tadi.
Indri terbahak, menyisakan keheranan juga terkejut bagi Badra.
"Itu bola mata Lastri," ucap Indri, tubuhnya sudah berdiri beberapa senti dari suaminya. Lantas secepat kilat mengambil sesuatu dari balik bajunya. Benda itu berkilat ditempa sinar lampu. Dengan gesit, dia menancapkan benda itu yang ternyata sebilah pisau di ulu hati Badra. Suaminya itu tidak menyangka akan mendapat serangan secepat itu dan tak sempat mengelak.
Badra menjerit, tubuhnya terjengkang limbung. Dari lukanya, darah mengucur deras. Dia terkapar.
"Kamu pikir aku buta, hah? Berkali-kali kamu sama perempuan jalang itu bercinta di rumahku, di kamarku, di istanaku sendiri. Apa kamu enggak tahu? Aku pura-pura buta, sebab aku sadar telah diselingkuhi. Aku sama sekali tak tahu cara untuk mengetahui kebenaran itu," Indri terengah. Emosinya meledak saat itu. "Dan, dengan pura-pura buta adalah cara terbaik.
"Aku membunuh perempuan iblis itu. Aku sengaja mengambil kedua bola matanya sebagai cenderamata untukmu, Mas," pungkas Indri sambil tertawa. Bola matanya mengilat, ada kebencian bersarang di sana.
Badra merasakan tubuhnya melemah, pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Ia menggelosorkan tubuhnya, sementara Indri mendekat dengan menenteng termos air panas. Tutupnya sudah dibuka.
"Jangan, sayang. Jangan lakukan itu," ucap Badra ketakutan.
Indri seakan tak mendengar, dia terus bergerak. Badra tersudut di ujung tembok.
"Semoga kamu bisa bertemu dengan Lastri di neraka sana," ucap Indri. Air panas itu serta mengguyur tubuh suaminya. Badra melolong, tubuhnya melepuh, asap tipis terbang melayang di dalam ruangan.
Sepi. Indri mematung di hadapan mayat Badra. Mulutnya menyeringai puas. "Aku bukan perempuan lemah," katanya pelan.
***

Cibatu, 26 November 2015.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.