Breaking News
recent

EDISI 5, FLASH FICTION (GIBRAN)




GIBRAN
Oleh Irma Putri Syaefudin

Entah mengapa perlakuan mereka terhadap bayiku tercinta begitu buruk. Kenapa? Bukankah ini yang mereka inginkan selama ini dariku? Memberiku obat-obatan penyubur setiap hari. Dari herbal sampai kimia, dari cairan hingga pil yang masuk ke dalam perutku. Demi mewujudkan mimpi-mimpi mereka yang ingin mendapatkan putra dari rahimku. Tapi kenapa justru sekarang mereka bersikap cuek padanya?! Gibran mikhael itu namanya, nama yang sejak 4 tahun lalu aku siapkan untuk anakku jika ia seorang bayi lelaki. Pipinya bulat dan tembem sama seperti aku. Matanya hitam dan beralis tebal seperti ayahnya. Setiap hari aku menggendongnya. Memberikannya susu meski pun asinya tidak keluar tapi aku berusaha menyusuinya. Aku yakin lama-lama pasti asiku keluar. Aku mencium pipinya yang bulat. Menggemaskan.
"Ambu ..., lihat atuh ini cucu Ambu si Gibran yang ganteng. Sok atuh Ambu digendong," ujarku pada Ambu yang datang membawa semangkuk bubur.
Ambu menatap Gibran dingin.
Gibran menangis kencang. Mungkin ia kurang suka melihat neneknya bersikap dingin. Aku berusaha menenangkan Gibran merayunya dengan kata-kata lembut.
"Ambu teh kenapa atuh?! Kasihan ini si Gibran nangis tuh lihat .... Aduh, jangan nangis, kasep." Aku kesal setiap Ambu bersikap begitu. Akhirnya bubur yang dibawa Ambu kutendang dan kuusir Ambu dari kamar. Aku tidak mau Gibran terganggu. Ambu keluar dari kamar sambil menangis, sedangkan Gibran tertawa dalam gendonganku riang sekali.
"Kenapa, sayang? Kenapa kamu marah sama Ambu?" Suamiku berdiri di ambang pintu. Tangan kekarnya merangkulku dengan protektif.
"Ambu jahat ...! Ambu bikin Gibran nangis!" kataku sambil memeluk Gibran yang mulai tak tenang melihat ayahnya.
Suamiku tersenyum sambil mengelus rambutku yang tidak beraturan. Sejak ada Gibran aku jarang bersolek, sebab setiap kutinggal dia akan menangis. Aku enggan menitipkannya barang sejenak pada Abah atau Ambu, Gibran tidak suka mereka dingin dan cuek. Sementara suamiku juga tidak pernah menggendong putranya. Hanya aku sepertinya yang menyayangi Gibran.
"Sayang ..., kembalilah seperti bidadariku yang dulu. Aku menerima kamu apa adanya. Maafkan aku tidak bisa menjagamu selama ini. Aku mohon kembalilah seperti dulu karena Gibran itu tidak ada, sayang ...." lagi-lagi dia berkata demikian padaku. Dia enggan mengakui keberadaan bayi kami.
Gibran menangis meronta di pangkuanku. Aku panik benar-benar panik takut dia terjatuh.
"Aa tuh kenapa sih! Ini anak kita! Bayi kita! Aa lihat dia menangis ketakutan!” Aku menggendong Gibran ke sana ke mari. Sebab, dia terus menangis membuat kupingku sakit dan kepalaku pusing.
Suamiku merampas Gibran dari tanganku.
Gibran menangis kencang.
Suamiku melempar Gibran ke lantai.
Aku melihat Gibran berdarah. Tega sekali dia berbuat sekeji itu pada bayi kami. Aku segera memburunya menggendongnya lagi.
"Hentikan, Irma! Sadar! Itu hanya boneka, bukan bayi! Sadar!" Suamiku memeluk dan berusaha memisahkan aku dengan Gibran.
"Enggak! Ini anakku! Pergi! Pergi!" jeritku sambil mencakar wajah suamiku.
Abah dan pria berjas putih tiba-tiba masuk ke kamarku menghentikanku. Abah merampas Gibran dariku dan membawanya ke halaman rumah. Abah lalu membakar Gibran. Abah membakar cucunya sendiri. Dasar keluarga gila! Mereka tega membakar buah hatiku.
Pria berjas putih tadi menyuntikan sesuatu padaku sebelum tanganku ikut terbakar untuk meraih Gibran lagi. Tubuhku lemas. Mataku berkunang-kunang. Samar sebelum terasa gelap aku mendengar suara mereka.
"Pak Nandang, saya sama keluarga teh sudah ikhlas. Bawa saja dia ke rumah sakit jiwa. Saya ikhlas," ujar suamiku.
Ambu kudengar menangis dan suamiku duduk di kursi menunduk penuh rasa bersalah.
"Jangan berkecil hati, Pak, saya akan berusaha mengobati traumanya. Semoga bisa sembuh,” sahut seseorag yang pasti si pria berjas putih tadi.
Rasanya aku ingin mengamuk karena mereka telah menghancurkan mimpiku.
"Ini salah kami, terlalu sering menekannya dan memberikan banyak obat tanpa tahu efek sampingnya," suara Abah terdengar sedih.
Aku ingin bangkit dan menerjang mereka kalau perlu membunuh mereka, sayang mataku terasa berat dan semua gelap.
***
Nina bobo oh nina bobo 
Kalau tidak bobo 
Digigit nyamuk ....
Tapi, sekarang aku bebas menyanyikan lagu itu untuk Gibran. Dia tampak senang di gendonganku. Dia tertawa gembira meski luka bakar memenuhi tubuhnya. Kami pasti bahagia di ruangan 3x3 meter bernomor 13.
***

Kuningan, 26 November 2015. 
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.