Breaking News
recent

EDISI 5, TEMPAT ANGKER (JIN ISLAM DI PESANTREN KERESEK)



  
     
JIN ISLAM DI PESANTREN KERESEK

Pesantren Keresek, sebuah pesantren yang saya pikir fungsi dan keberadaannya tidak berbeda jauh seperti pesantren-pesantren lain pada kebanyakannya: tempat menuntut ilmu agama Islam. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas, melainkan kisah yang terjadi di belakangnya beberapa puluh tahun yang lalu.
Kisah ini sendiri bukan hanya mitos belaka—yang diragukan kebenarannya, melainkan ini benar-benar terjadi. Bahkan, kisah ini pernah termuat di dalam majalah sastra Sunda, Mangle dalam bentuk cerita bersambung.  Berarti, di sini, saya hanya berusaha menceritakannya kembali dengan tidak menambah atau mengurangi kisah aslinya.
Pesantren ini terletak di Desa Keresek Kecamatan Cibatu-Garut. Menjadi salah satu dari sekian pesantren yang keberadaannya sudah cukup tua. Cukup terkenal hingga ke pelosok nusantara, sebagai buktinya banyak yang datang menjadi santrinya dari daerah-daerah di luar Garut, bahkan Jawa: Sumatera, hingga Lombok.
Pesantren ini berdiri pada tahun 1887 dengan pendirinya K. H. Muhammad Tobri, kemudian beliau menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya yang bernama K. H. Ahmad Nahrowi. Kemudian, diturunkan kembali pada putranya, K. H. Busrol Karim, yang kelak pada masa kepemimpinannya ini, kisah ini berlangsung. Kejadiannya sendiri terjadi di tahun 60-an.
Adalah Siti Qolbuniyah nama jin itu. Seorang jin perempuan Islam dari negeri Habsy yang sengaja berkunjung dari negaranya ke tanah Sunda untuk sebuah maksud. Kalau istilah sekarang, bersama suami yang baru dinikahinya itu sedang melakukan prosesi ‘bulan madu’. Itu benar, ia ingin membandingkan kehidupan rumah tangga bangsa jin—seperti dirinya, dengan bangsa manusia.
Kronologisnya terjadi ketika suatu malam di bulan Ramadhan menjelang salat tarawih, tepat ketika para santri sedang mengaji. Mereka dikagetkan oleh sebuah teriakan yang menyatakan bahwa ada dua ekor ular berkeliaran di sekitaran pesantren. Sontak, para santri bergerak untuk memastikan sekaligus menyingkirkan bila itu benar-benar ular yang bisa membahayakan. Salah satu dari mereka pada akhirnya berhasil membunuh salah satu ular. Dan, ini adalah awal dari kisah kekacauan yang terjadi di pesantren.
Entah berdasar dari mimpi atau ilham, sebuah suara tak berwujud mengatakan bahwa, sepasang ular tersebut adalah jelmaan sepasang pengantin dari Negara Habsy, negara jin. Mereka berdua adalah putra dan puteri mahkota. Mereka datang ke pesantren Keresek karena merasa terpikat dengan para santri yang mengajikan ayat-ayat Al-Quran dengan begitu merdu. Berkunjung dengan tampilan asli sosok jin jelas tak mungkin, maka berubahlah mereka berdua menjadi dua ekor ular. Tak dinyana, kunjungannya berakhir dengan kematian jin laki-lakinya, jelas si jin perempuan sedih dan tidak terima.
Berhubung mereka masih baru dengan pernikahannya, kematian suaminya yang tiba-tiba meninggalkan bekas yang dalam pada sang perempuan. Ia bertekad untuk membalaskan dendam atas kematian suaminya.
Sejak itu, malam-malam di dalam pesantren sangat mencekam. Berbagai keanehan-keanehan kerap terjadi. Bukan sekali dua kali, tapi sering. Para santri kerap diganggu.
Suatu saat seorang santri yang terlambat mengikuti salat Isya berjamaah mengalami gangguan. Ketika dirinya sedang khusyu di rakaat terakhir, sebuah benda bulat mirip kelereng berputar-putar mengelilinginya, tentu saja konsentrasinya pecah hingga salatnya benar-benar terganggu.
Lain lagi dengan cerita salah satu santri yang tidurnya diganggu. Diceritakan seorang santri yang tidur di kobong tiba-tiba harus terbangun ketika tidurnya berpindah ke dalam bedug. Ada pula yang pernah melihat seorang santri yang tidur di atas kabel telepon, tentu saja sang santri tidak menyadarinya. Ia tidur dengan lelap.
Para santri ditakut-takuti dengan kejadian-kejadian di luar nalar. Gangguan ini terjadi bertahun-tahun lamanya. Berbagai cara telah Ajengan lakukan untuk mengusirnya. Hasilnya, nihil. Gangguan puteri jin kian menjadi. Ketika Ajengan mengusirnya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran, sang jin hanya tertawa, sebab bacaan Qurannya ternyata jauh lebih syahdu daripada sang Ajengan. Ini, gagal.
Pada satu keterangan disebutkan, bahwa setelah beberapa tahun mengganggu pesantren, sang jin—Siti Qolbuniyah, diam-diam mencintai sang Ajengan. Tentu saja sang Ajengan menolaknya mentah-mentah. Dua sosok dari dunia yang berbeda jelas-jelas tidak mungkin bisa disatukan. Maka, marahlah sang puteri jin. Tak ayal gangguan dari sang jin semakin membabi-buta.
Berbagai cara dilakukan untuk mengusirnya, dan hasilnya sama saja, tidak berhasil. Maka, satu-satunya cara adalah mengabaikannya. Dan, ternyata trik ini sepertinya berhasil. Ketika sang jin melancarkan aksinya, para santri mengabaikannya, pura-pura tak peduli. Merasa diacuhkan, sang puteri jin menurunkan tensi gangguannya, hingga suatu saat sang puteri jin merasa bosan sendiri.
Ini jelas-jelas berita yang sungguh menyenangkan bagi seluruh penghuni pesantren. Suatu saat sang puteri jin meminta izin pamit kepada sang jin, masalah komunikasinya dengan sang Ajengan, mungkin lewat mimpi. Puncaknya, sang puteri jin benar-benar undur diri.
Sebagian orang menyatakan, hari ketika sang puteri jin undur pamit, terjadi arak-arakan pesta yang cukup meriah di sepanjang jalan menuju pesantren, ketika salah satu dari orang-orang itu menanyakan perihal pesta yang diadakan sang Ajengan. Tentu saja, sang Ajengan keheranan sebab sama sekali dirinya tidak menyelenggarakan pesta. Sang puteri jin pulang dengan caranya, tentu saja.
Perihal arak-arakan itu, hingga saat ini masih jadi sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Walahu’alam. Pesta itu mungkin pernah terjadi, dan sebagian orang yang menyaksikannya, selebihnya tidak. Ini mungkin pesta yang terjadi secara ghaib.
Setelah kepulangan sang puteri jin, nyaris gangguan-gangguan itu selesai, hingga suatu saat sebuah kejadian unik terjadi lagi: seorang santri dinyatakan hilang secara misterius, tetapi kembali lagi kemudian setelah bertahun-tahun dengan membawa cerita-cerita yang tidak bisa diterima oleh akal manusia. Bertahun-tahun santri itu hilang, sementara yang bersangkutan mengaku bahwa dirinya pergi hanya beberapa malam saja.
Demikian kronologisnya. Pesantren Keresek ini sendiri masih berdiri hingga sekarang, terakhir kepemimpinan pesantren ini berada di bawah tangan K. H. Hasan Basri yang beberapa waktu lalu telah meninggal dunia.



Sindang Rasa-Cibatu, 07 Januari 2016
Ditulis oleh Utep Sutiana dari berbagai sumber.
Oke Sudrajat

Oke Sudrajat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.